Selasa, 15 Maret 2011 23:14 WIB Wonogiri Share :

Batu raksasa Paranggupito, Dinas PESDM siapkan penanganan manual

Wonogiri (Solopos.com)–Batu raksasa di Gunung Lulang yang mengancam keselamatan 20-an warga Dusun Guntur, Desa Gunturharjo, Paranggupito dipastikan tidak akan diledakkan. Sebagai gantinya, Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (PESDM) menyiapkan pemecahan secara manual.

Kepala Dinas PESDM, Arso Utoro mengatakan hal tersebut saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (15/2/2011), menanggapi usulan yang disampaikan sebelumnya oleh Camat Paranggupito, Sariman. Selain berisiko, Arso mengatakan penanganan batu raksasa dengan ledakan memerlukan waktu lama untuk proses perizinannya. Belum lagi harus dilakukan oleh tenaga ahli bersertifikat yang tidak ada di Wonogiri.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Kesbangpol dan Linmas, dan sudah pula menerjunkan tim untuk memeriksa kondisi fisik batu itu. Dilihat dari posisinya, penanganan dengan cara diledakkan akan terlalu berisiko,” ungkap Arso, didampingi Kasubid Geologi, Bambang Rinanto.

Menurut Arso, batu raksasa itu secara keseluruhan berukuran sekitar 20.000 meter kubik. Belahan batu itu, yang longsor sejauh 50-an meter ke arah permukiman penduduk hanya sepertiganya.

Sangat sulit untuk memprediksi ke arah mana larinya pecahan batu saat diledakkan sehingga dikhawatirkan justru akan membahayakan, tidak hanya bagi orang yang meledakkan tapi juga bagi warga di sekitar lokasi. Diakui Arso memang bisa dilakukan low explosive, tapi harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli.

Karena itulah, Arso mengatakan akan lebih aman apabila batu raksasa itu dipecahkan secara manual. Untuk itu, secepatnya Dinas PESDM akan mengusulkan anggaran. Menurutnya, pemecahan itu akan membutuhkan biaya sekitar Rp 35 juta.

Sedangkan mengenai waktunya, diakui Arso mungkin akan butuh waktu lebih lama. “Tapi itu juga tergantung berapa jumlah tenaga yang dikerahkan. Dalam hal ini warga setempat akan kami libatkan dalam proses pemecahannya secara padat karya. Perkiraan kami mungkin paling cepat sekitar dua bulan batu itu baru bisa benar-benar hancur,” kata dia.

Sebagaimana diinformasikan, batu berukuran raksasa di Gunung Lulang, Paranggupito, terbelah dan salah satu belahannya longsor pada 6 Februari 2011 lalu dan hampir menimpa salah satu rumah penduduk di Dusun Guntur, Desa Gunturharjo. Sejak saat itu, sekitar enam keluarga dan 20-an jiwa di lereng gunung itu terpaksa mengungsi pada malam hari karena khawatir batu yang masih ada di atas gunung ikut longsor.

Kadus Guntur, Widi Hartono dan Camat Paranggupito, Sariman mengusulkan agar batu itu diledakkan dengan low explosive dilanjutkan penanganan manual oleh warga. Menurut mereka itulah jalan tercepat agar ancaman longsor segera berakhir.

(shs)

lowongan pekerjaan
Fila Djaya Plasindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…