Senin, 28 Februari 2011 20:51 WIB News Share :

Soal desakan reshuffle, Anas bantah tekan Presiden

Jakarta — Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum membantah bahwa desakan-desakan yang dilancarkan kader PD agar Presiden SBY me-reshuffle kabinet adalah sebuah tekanan. Menurutnya, desakan perombakan kabinet adalah pandangan partai.

“Presiden itu punya kewenangan 100 persen. Presiden tak perlu ditekan-tekan,” kata Anas usai menghadiri acara pembukaan Kongres I Perempuan Demokrat Republik Indonesia di Hotel Crown, Jakarta, Senin (28/2/2011).

Anas juga membantah telah memobilisasi elite partainya untuk menekan SBY lewat desakan reshuffle.

“Bukan mobilisasi. Itu pandangan partai. Dan itu kan bukan pandangan khas Demokrat. Anda boleh tanya pandangan fraksi atau partai yang lain toh,” kata Anas yang mengenakan jas biru Demokrat ini.

Ksatria

Sementara itu, kepada Partai Golkar dan PKS yang membangkang dalam pengambilan keputusan hak angket pajak, Anas meminta kedua partai itu berkoalisi secara sejati dan sungguh-sungguh. “Itu saja, sangat simpel,” kata Anas.

Menanggapi alasan Golkar dan PKS yang mendukung angket pajak juga demi pemberantasan korupsi yang merupakan visi pemerintah, Anas mengatakan, hal sudah terang jangan dibias-biaskan.

“Kan sederhana saja. Demokrat berpolitk dengan cara yang sederhana, sederhana itu berpolitik secara ksatria, ksatria itu kalau ya, ya. Kalau tidak, tidak. Kalau di dalam, di dalam, kalau di luar, di luar. Jadi politik itu kan sudah rumit, jadi jangan ditambah rumit,” ujarnya.

detikcom

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…