Senin, 28 Februari 2011 12:38 WIB Hukum Share :

Kekerasan dengan isu santet kembali terjadi di Pamekasan

Pamekasan (Solopos.com)–Lagi-lagi isu santet berujung pada aksi kekerasan terjadi di Pamekasan, Madura. Setelah pekan lalu, sejumlah massa mengeroyok seorang warga Desa Kramat Kecamatan Tlanakan, kini, amuk massa terjadi lagi di Dusun Klompang Desa Rombuh, Kecamatan Palengaan.

Kali ini, amuk massa dialamatkan kepada Namin ,50, warga Dusun, Sajenah Desa Kacok, Palengaan. Kejadian pengeroyokan menimpa Namin, yang saat itu hendak bertakziah ke rumah duka mendiang Karim ,40.

Mendiang Karim yang meninggal, Senin (28/2/2011) dini hari itu sebelumnya divonis menderita komplikasi penyakit paru-paru. Vonis itu muncul, setelah mendiang Karim sempat dirawat medis di sebuah rumah sakit Pamekasan.

“Pada saat warga dan keluarga sedang merawat jenazah mendiang Karim, tiba-tiba perhatian mereka tertuju pada sosok Naim yang ikut bertakziah ke rumah duka,” kata Kapolsek Palengaan, AKP Haji Fauzan, Senin.

Keluarga mendiang Karim lalu mendekati Naim dan langsung menuduh telah menyantet Karim. Tuduhan yang menyudutkan Namim itu makin ramai dan ada warga yang berteriak hajar.

Teriakkan itu kontan memprovokasi massa. Tak pelak, wajah dan tubuh Naim menjadi sansak hidup. Beruntung, ada sebagian pentakziah yang melerainya dan menghubungi polisi.

Kini, Naim diselamatkan dan diamankan di Mapolsek Palengaan. Meski begitu polisi belum menangkap sang pengeroyok. “Kami masih menunggu suasana rumah duka berubah kondusif sambil mengumpulkan data dan keterangan saksi,” kata AKP Fauzan.

Dalam kesempatan yang sama, AKP Fauzan mengimbau kepada warga Palengaan, agar tidak mudah dan gampang menuduh seseorang memiliki ilmu santet. Sebab, isu santet gampang menyulut aksi massa.

“Sudahlah. Hentikan main tuding dengan membawa isu santet. Soal penyebab kematian, pasrahkan saja kepada akhli medis dan para dokter,” tutup AKP Fauzan.

(dtc/tiw)

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…