Senin, 28 Februari 2011 11:39 WIB Tokoh Share :

Karlina, sang guru anak-anak Orang Rimba

Solopos.com — Dengan berbekal gelar sarjana, mungkin semua orang memiliki impian bekerja di tengah kota. Jarang-jarang ada yang mau bekerja di tempat yang jauh dari segala akses. Namun Karlina, 27, alumnus Jurusan Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini, lebih memilih menjadi guru bagi anak-anak Orang Rimba nun jauh di tengah hutan belantara di Jambi sana.

Wanita lajang ini menjadi guru anak Orang Rimba bergabung dengan kelompok aktivis LSM Lingkungan Warung Informasi (Warsi). Dia sudah bergabung sejak 2009 silam, setelah setahun sebelumnya menggondol sarjana antropolog. Karlin, begitu sapaan akrabnya, memang tipe wanita yang suka petualang. Dia rela meninggalkan jauh keluarganya di Yogyakarta. Pilihannya ingin mengabdikan kemampuan untuk anak Orang Rimba, suatu kelompok masyarakat pedalaman di Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), jauh dari hingar bingarnya hidup di perkotaan.

“Ketika awalnya memilih pekerjaan seperti ini, sempat ada teguran dari orangtua. Ya mungkin semua orang juga berpikiran ingin hidup dan bekerja di tempat yang bersih, tidak seperti saya hidup di tengah hutan belantara,” kata Karlin dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu.

Tapi yang namanya hidup, merupakan pilihan dan kesenangan. Karlin bisa meyakinkan keluarganya bahwa alternatif yang dipilihnya sebagai bentuk tantangan tersendiri dalam hidup. Hatinya terpanggil ingin mengabdi tanpa pamrih pada anak Orang Rimba ini, ketika di bangku kuliah sempat melihat sebuah iklan di TV. Di mana sosok wanita tangguh yang dikenal dengan nama Butet -kala itu bekerja di Warsi- menjadi guru anak Rimba.

Dari sana, Karlin yang juga hobi panjat gunung ini merasa terpanggil. Dia ingin setelah meraih sarjana, kelak bisa bergabung bersama Warsi. Kelompok aktivis Warsi sendiri sejak tahun 1998 silam sudah membuat kelompok belajar alternatif untuk anak-anak Rimba itu.

Kebetulan ketika itu Warsi membuka lowongan buat tenaga pengajar bagi anak Orang Rimba. Setelah bergabung, tahap awal Karlin harus beradaptasi dengan situasi dan suasana di lingkungan hutan belantara itu. Untuk menempuh jalur ke kawasan hutan, cewek bertubuh mungil ini, harus berjalan kaki menelusuri perbukitan. Di kawasan penyanggah TNBD, memang disana ada Posko Warsi. Dari sana, Karin harus beranjak kembali menuju perkampungan Orang Rimba. Paling dekat dari Posko Warsi, dia berjalan minimal satu jam. Namun demikian masih ada kelompok Orang Rimba lainnya yang jauh di tengah kawasan hutan yang harus ditempuh berjalan kaki selama 9 jam.

“Kita tidur di Posko Warsi di pinggir taman. Orang Rimba baik-baik, bila mereka berhasil berburu, saya pasti diberi dagingnya,” kata Karlin.

Awalnya, Karlin tak membayangkan kondisi Orang Rimba sesungguhnya. Fakta di lapangan, ketika kali pertama menginjakkan kaki di pemukiman Orang Rimba, dia terkejut masih ada rumah beratap terpal tanpa dinding. Kaum wanitanya hanya berkemben dan banyak anak-anak tanpa busana.

“Walau sudah banyak baca buku tentang suku-suku di Indonesia, namun masih sulit dipercaya kalau zaman sekarang masih ada komunitas marginal seperti Orang Rimba,” kata Karlin yang sebelum masuk UGM merupakan tamatan dari SMK Cipta Karya, Medan, itu.

Tidak terlalu sulit memang baginya beradaptasi dengan lingkungan Orang Rimba. Ini dimungkinkan, karena aktivitas Warsi selama ini sudah cukup dekat dengan masyarakat Rimba. Sehingga dengan membawa nama Warsi, kelompok masyarakat Rimba bisa menerima dengan terbuka.

“Senangnya mereka selalu terbuka dengan saya, mungkin karena mereka sudah percaya sama Warsi, jadi begitu saya masuk boleh dikata tidak ada halangan berarti dalam bergaul,” lanjut gadis asal Yogyakarta ini.

Tugas mengajar menulis dan berhitung dijalankannya dengan senang hati. Ada sekitar 30-an anak Rimba yang membutuhkan tenaganya. Dari jumlah itu, mereka tidak satu lokasi. Mereka terdiri dari kelompok yang berbeda dan lokasi yang berbeda. “Kebetulan anak-anak rimba sangat cepat menangkap, dan mereka sangat antusias setiap kali belajar,” ujar Karlin.

Proses belajarnya, Karlin harus berdiam diri selama dua pekan di dalam hutan dua pekan lainnya beristirahat di Kota Jambi. Papan tulis dan kapur serta sejumlah buku, pena dan pensil selalu menyertainya setiap kunjungan ke komunitas Orang Rimba. “Kalau kertas habis, ya kami pakai apa yang bisa untuk ditulis, pakai kertas bekas bungkus rokok pun pernah,” ujarnya.

Proses belajarnya pun tidak sama dengan dunia pendidikan normal yang memiliki ruangan kelas yang bagus. Anak-anak Orang Rimba ini belajar di alam terbuka. Mereka duduk bersama di bawah pohon rindang, kadangkala eblajar di tepi sungai.  Juga tak ada jam pelajaran sebagaimana umumnya. Perlu kesabaran ekstra agar bisa mengumpulkan anak-anak Rimba itu.

“Kapan mereka kumpul, baru kita belajar. Jadi bisa belajar pagi, siang atau sore. Kalau malam jelas tidak bisa, karena tidak ada listrik,” katanya.

Dalam bertugas, tidak hanya sekadar mengajar baca dan tulis saja. Lembaga tempat dia bekerja juga melakukan advokasi untuk pendidikan anak-anak Orang Rimba. Sebagaimana misi Warsi yang juga menghubungkan Orang Rimba dengan jalur pendidikan formal, terutama untuk Orang Rimba yang berada dekat dengan fasilitas pendidikan.

“Ada juga Orang Rimba yang sudah dekat dengan pemukiman, seperti Orang Rimba di Desa Kedudung muda, mereka sekitar 2 jam perjalanan keluar rimba sudah ketemu sekolah formal. Untuk anak-anak di kelompok ini, kami usahakan mereka untuk bisa mengikuti pendidikan sekolah formal,” jelas wanita berkulit kuning langsat ini.

Bagi anak-anak yang dekat dengan sekolah formal ini, rata-rata mereka telah mengikuti sekolah alternatif yang diselenggarakan Warsi. Mereka sudah bisa membaca, menulis dan berhitung serta sedikit pengetahuan umum. Kemudian mereka didaftarkan ke sekolah terdekat untuk mengikuti sekolah kelas jauh.

“Mereka kita daftarkan di sekolah formal, walau bukan langsung sekolah setiap harinya, namun diatur jadwalnya dengan guru sekolah bersangkutan. Kemudian dipilih tempat untuk pertemuan, biasanya dilakukan di kantor lapangan kita,” tambah Karlin.

Hasilnya lumayan, dalam beberapa tahun ini anak-anak rimba sudah ada yang mengikuti ujian persamaan UAN. “Walau belum terlalu banyak, tapi tahun kemarin sudah ada 3 orang yang lulus UN, namun sayang mereka belum lanjut ke jenjang berikutnya, lagi-lagi terkedala jarak yang jauh dengan SMP terdekat,” kata Karlin.

Tidak hanya itu, sebaran Orang Rimba yang cukup luas, yang terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu di TNBD, selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dan sepanjang jalan lintas Sumatera mulai dari batas Jambi-Sumatera Selatan sampai Batas Jambi-Sumbar. Di beberapa tempat di Jalan Lintas, Warsi juga mengadvokasikan pendidikan formal untuk anak-anak rimba. Selain langsung menghubungkan dengan pihak sekolah, staf pendidikan juga melakukan advokasi ke pemerintah.

“Bagaimana pun pendidikan hak semua orang, dan negaralah yang berkewajiban untuk memenuhi hak tersebut, kami dari Warsi mendorong supaya negara lebih tanggap dan lebih berkomitmen untuk pendidikan Orang Rimba,” ucap Karlin.

Apalagi sebagian besar Orang Rimba di jalan lintas sudah berintegrasi dengan kelompok masyarakat Melayu maupun masyarakat transmigrasi. “Sarana pendidikan sebenarnya sudah sangat dekat dengan mereka, hanya stigma yang dilekatkan kelompok masyarakat lain pada Orang Rimba seringkali menyebabkan mereka tidak diterima bersekolah di sekolah formal. Ini yang terus kami upayakan supaya negara dapat mengambil peran untuk memenuhi hak-hak masyarakat adat seperti halnya Orang Rimba,” harap Karlin.

(dtc/try)

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…