SUDUT ANCOL-- Sebuah landscape indah salah satu sudut Pantai Marina Ancol dilihat dari ketinggian. Keindahan semacam ini memberikan kesan mendalam bagi wisatawan. (FOTO: Anik Sulistyawati)
Jumat, 25 Februari 2011 14:30 WIB News Share :

Taman Impian Jaya Ancol, Impian Semua Wisatawan

SUDUT ANCOL-- Sebuah landscape indah salah satu sudut Pantai Marina Ancol dilihat dari ketinggian. Keindahan semacam ini memberikan kesan mendalam bagi wisatawan. (FOTO: Anik Sulistyawati)

 

Oleh: Anik Sulistyawati

Saat ini berwisata sudah menjadi kebutuhan hidup. Pada awal abad ke-20 kegiatan berlibur atau melakukan perjalannan ke tempat wisata semula hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang yang relatif kaya. Namun kini berwisata telah menjadi hak azazi hak azazi manusia, seperti ungkapan John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox bahwa “where once travel was considered a privilege of the moneyed elite, now it is considered a basic human right. Hal ini tidak hanya terjadi di Negara-negara maju tetapi juga muncul juga di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Bahkan bagi sebagian orang berwisata juga merupakan bagian dari gaya hidup atau life style.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) mengklaim jumlah wisatawan nusantara terus  mengalami peningkatan, baik jumlahnya maupun pengeluaran wisatawan. Dari data yang diberikan Kemenbudpar, jika tahun 2001 ada 103.884 orang wisatawan nusantara dengan pengeluaran Rp324.580, maka pada tahun 2007 jumlahnya sudah mencapai 116,1 juta orang dengan pengeluaran rata-rata Rp406.000 sehingga total jenderal pengeluarannya adalah Rp79,85 triliun. Sementara berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pada tahun 2009, Indonesia dikunjungi sekitar 7 juta wisatawan mancanegara (wisman) dengan pemasukan lebih kurang Rp 70 triliun.

Ini merupakan peluang emas bagi industri wisata Tanah Air, termasuk Taman Impian Jaya Ancol sebagai salah satu ikon wisata di negeri ini. Jika dilihat dari data jumlah pengunjung, tahun 2009 total pengunjung Ancol mencapai 14,1 juta jiwa. Padahal  tahun 2005 wisawatan yang berkunjung ke taman ini “baru” 10,3 juta pengunjung. Memang jumlah ini cukup fantastis. Namun apakah capaian ini sudah optimal? Tentu saja belum. Ancol sebenarnya bisa mencapai lebih dari itu, bahkan sangat bisa. Ancol punya modal dan potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi tujuan utama wisatawan baik nusantara maupun manca negara. Dengan lokasinya yang strategis di ibukota, Ancol punya peluang besar untuk menjaring banyak pengunjung.

Selain memiliki tiga theme park  yaitu Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra dan Atlantis Water Adventure Ancol memiliki berbagai konten wisata dan fasilitas permainan. Berdiri di atas lahan 552 hektar Ancol saat ini juga mempunyai sebuah eco park 35 hektar yang antara lain berisi  beberapa ruang terbuka hijau, boulevard, sport club dan hampir 3000 unit rumah tinggal.

Namun apakah potensi ini sudah dimanfaatkan atau ditawarkan kepada masyarakat Nusantara dan bahkan dunia dengan maksimal? Mengingat, saat ini negara-negara lain juga melakukan hal yang kserupa untuk meningkatkan industri wisata mereka. Gambaran sederhana saja, beberapa waktu lalu seorang teman pergi ke Singapura untuk suatu tugas peliputan. Sebagaimana biasa, ketika bertugas ke luar  negeri, reporter di media kami selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata sebagai bahan tulisan. Dia pun berencana untuk mengunjungi Universal Studio yang berada di Negeri Singa itu.  Namun ketika pulang dan sampai di kantor, tenryata dia tak menulis perjalanannya ke Universal Studio seperti rencana semula. Dia pun menunjukkan sebuah foto dimana dia hanya berdiri di depan pintu masuk tempat wisata tersebut.
Dia tidak bisa masuk ke Univesal Studio lantaran tidak dapat tiket, Karena untuk masuk ke theme park itu, wisatawan harus pesan tiket sebulan sebelumnya. Walah.

Hal ini jelas menunjukkan betapa besarnya minat wisatawan untuk berkunjung ke theme park di Singapura tersebut. Kenyataan lain yang juga patut menjadi renungan adalah masih banyaknya orang di negeri ini, entah itu pejabat atau warga biasa yang merasa lebih pede atau prestise ketika melakukan wisata ke luar negeri. Lantas bagaimana halnya dengan Ancol? Seberapa besarkah kebanggaan wisatawan yang berkunjung ke Ancol? Kenapa para pejabat itu lebih memilih kunker ke luar negeri padahal di sini ada Ancol?

Seorang teman beberapa waktu lalu berkunjung ke Ancol untuk berlibur. “Bagus sih, cuman capek di sana tidak ada bus wisata yang menghubungkan wahana satu dengan lainnya. Belum lagi petugasnya susah dicari, sehingga kita di sana hampir saja tersesat karena petunjuk jalannya juga minim. Di beberapa tempat juga masih terlihat sampah berserakan. Sayang kan hal itu bisa terjadi di tempat wisata besar seperti Ancol,” kisah dia.

Mungkin keluhan itu hanya menyangkut hal-hal sepele seperti angkutan wisata, kebersihan dan pelayanan petugas. Namun hal-hal sepele itu justru langsung dirasakan langsung oleh wisatawan. Wahana yang komplet akan tak berkesan bila memang kenyamanannya kurang maksimal. Jika wahana sudah lengkap, pelayanan petugas maksimal, kebersihan lokasi terjaga, otomatis sebuah lokasi wisata akan memberi kesan mendalam bagi wisatawannya.

Kita tidak bisa menutup mata, saat ini persaingan sektor wisata secara global semakin ketat. Sekarang berwisata ke luar bukan hanya menjadi monopoli orang-orang berduit saja. Mengingat banyaknya paket-paket wisata ke luar negeri yang terjangkau bagi kalangan menengah. Ini juga tantangan tersendiri bagi Taman Impian Jaya Ancol untuk lebih memperbaiki diri lebih keras lagi. Kita berharap masyarakat ini lebih bangga berkunjun ke Taman Impian Jaya Ancol daripada ke taman-taman di luar negeri.

Idealisme pihak Ancol untuk menyajikan sajian wisata khas Indonesia harus terus dipegang. Tekadnya untuk tetap teguh menjaga nilai-nilai budaya luhur bangsa harus tetap dipertahankan. Tinggal bagaimana mengolah potensi-potensi besar itu dengan profesionalis SDM yang maksimal. Membungkus sajian-sajian wisata dengan promisi-promisi menarik di berbagai media harus terus digalakkan. Sajian-sajian paket-paket wisata terpadu bagi wisatawan bisa ditawarkan dengan dengan harga bersaing.

Jika semua dilakukan, harapan untuk menjadikan Ancol sebagai kawasan wisata terpadu dan paling diminati wisatawan bukan lagi impian. Mari menjadikan Taman Impian Jaya Ancol sebagai impian semua wisatawan.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…