Jumat, 25 Februari 2011 11:30 WIB News Share :

Evakuasi tiga karyawan, Pertamina sewa jet pribadi

Jakarta (Solopos.com)–Tiga pekerja Pertamina masih berada di Tripoli, Libya. Berbagai upaya dikerahkan untuk mengeluarkan ketiga pria itu dari negeri pimpinan Muammar Khadafi, mulai pesawat jet hingga kapal.

“Mulai kemarin sudah diupayakan private jet untuk menjemput tapi belum mendapat clearance (izin mendarat) dari Tripoli. Sehingga contingency-nya ada pesawat dari Tunisia yang menjemput, dan juga kapal ke Tripoli,” ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Mochamad Harun saat dihubungi, Jumat (25/2/2011).

Dari ketiga sarana tersebut, yang datang lebih dulu ke Tripoli-lah yang akan digunakan untuk mengevakuasi pekerja Pertamina. Menurut Harun, jet pribadi berkapasitas 13 orang itu disewa Pertamina untuk menerbangkan pekerjanya dari Tripoli menuju Athena, Yunani.

“Karyawan kita kan cuma tiga orang, jadi sisa kursinya bisa diisi teman yang lain. Ini kita koordinasikam dengan KBRI. Sayangnya hingga sekarang belum dapat clearance, makanya kita akan pilih mana yang sampai duluan,” sambung Harun.

Sedangkan kapal yang juga dikerahkan untuk mengevakuasi, jika berhasil masuk Libya, akan mengangkut pekerja Pertamina dan WNI lainnya untuk keluar Libya. Kemungkinan kapal ini akan merapat ke Tunisia atau Italia setelah berhasil mengevakuasi WNI.

“Lokasi proyek kita ada di sebelah timur Tripoli. Ada yang off shore dan on shore, banyak pekerjaan kantor. Staf kita tiga, sisanya orang Libya. Proyek dihentikan sejak 4-5 hari lalu,” terang Harun.

Bagaimana kondisi pekerja Pertamina itu? “Konsidinya Alhamdulillah sehat. Tadi malam sudah di KBRI. Kami khawatir karena ini Jumat, hari besar, setelah Jumatan ada kerusuhan lagi seperti Mesir waktu itu. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa, sehinga memudahkan evakuasi,” tutur Harun.

Di Libya, tinggal 870 WNI. Mereka terdiri dari mahasiswa, pekerja tambang dan TKI. Pekerja Wijaya Karya dan Medco juga berada di negara tersebut. Situasi di Libya memanas sejak demonstran meminta Khadafi yang telah berkuasa selama 41 tahun untuk turun tahta. Namun permintaan itu justru ditanggapi represif oleh pria yang setia dengan pangkat kolonelnya ini. Tak kurang dari 300 orang tewas dalam peristiwa itu.

(dtc/tiw)

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…