Kamis, 24 Februari 2011 13:33 WIB Internasional Share :

Tolak perintah Khadafi, 130 tentara Libya ditembak mati

Tripoli (Solopos.com) – Lebih dari seratus prajurit Libya menemui ajal karena menentang perintah keji rezim Muammar Khadafi. Mereka menolak perintah menembaki demonstran antipemerintah. Sebagai akibatnya, para tentara itu justru ditembak mati!

Hal itu seperti disampaikan organisasi Federasi HAM Internasional atau International Federation for Human Rights (IFHR) yang mendapatkan video amatir berlangsungnya proses eksekusi. Dalam video itu, seperti diberitakan Press TV, Kamis (24/2/2011), terlihat jasad sekitar 130 tentara tewas dengan tangan mereka diikat ke belakang badan. Prajurit yang memberontak itu ditembak mati di al-Baida dekat Kota Benghazi.

Khadafi yang menolak mundur memerintahkan pasukannya menembaki para demonstran. Namun belakangan bertambah banyak tentara yang menolak perintah tersebut.

Sumber-sumber medis mengatakan kepada IFHR mereka melihat adegan pembantaian di Benghazi. Tentara-tentara bayaran menembak secara acak ke arah demonstran di kota terbesar kedua di Libya itu. Rumah-rumah sakit di kota tersebut dipenuhi mayat-mayat dan para korban yang terluka akibat serangan orang-orang pendukung Khadafi.

IFHR menegaskan, kekerasan terhadap para demonstran di Libya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus diajukan ke International Court of Justice. Setidaknya 1.000 orang dilaporkan telah tewas akibat kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan terhadap para demonstran sejak pekan lalu. Ratusan demonstran yang tewas telah dikuburkan secara massal di sebuah pantai di Tripoli, ibukota Libya.

Pasukan Libya menggunakan senjata berat pada Rabu (23/2/2011), untuk membubarkan massa. Bahkan aparat juga melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk mencari para demonstran antipemerintah.

(dtc/try)

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…