Kamis, 24 Februari 2011 05:01 WIB Klaten Share :

Ketika alat tenun lurik tak lagi bergoyang...

Oleh : Aries Susanto

Alat tenun itu tak lagi bergoyang. Debu dan sarang laba-laba membungkusnya seperti berkisah tentang kesepian. Dua bulan terakhir ini, alat tenun bukan mesin (ATBM) itu memang tak lagi bersuara riuh.

Di sana, yang tersisa hanyalah kenangan masa silam tentang kejayaan kain lurik ATBM. “Sekarang, sudah kalah dengan lurik buatan mesin. Kami tak bisa berbuat apa-apa,” kata Abdul Hamid pasrah.

Pengusaha lurik asal Dukuh Klebengan, Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring, Klaten itu sebelumnya memiliki 40-an tenaga kerja penenun kain lurik ATBM. Ketika kain lurik mencapai puncak keemasannya, permintaan kain membanjir hingga membuat para pekerjanya harus memeras keringat siang malam. “Sampai-sampai pemesan harus antre lama. Padahal, kami memproduksi kain lurik 400-an meter dalam sehari. Tapi tetap saja kewalahan,” kenangnya di kediamannya, Rabu (23/2).

Menjelang tutup tahun 2010, langit kelabu seakan menggantung di tempat usaha Hamid. Lurik dari Kabupaten Jepara, Kudus, serta Pekalongan tiba-tiba membanjir ke Kabupaten Klaten. Pria yang menekuni usaha lurik sejak tahun 1957 silam itu dibikin terheran-heran setengah tak percaya. “Jumlahnya sangat banyak. Di mana-mana orang menawarkan kain lurik dengan harga lebih murah,” jelasnya.

Saat itulah, Hamid merasakan betul goncangan hebat yang menimpa usahanya. Permintaan luriknya anjlok drastis. Harga benang melonjak hingga nyaris 300%. “Pokoknya harga benang gila-gilaan,” katanya.

Meski berat, Hamid pun terpaksa mengambil keputusan pahit. Puluhan tenaga kerjanya dirumahkan satu demi satu. Untuk menjaga agar alat tenunnya tetap bisa bergoyang, kini dia hanya mempekerjakan sepuluh orang. “Itu pun, kalau kerja sudah tak penuh lagi. Permintaan sepi,” tambahnya.

Hamid tak sendirian. Ratusan bahkan ribuan pengrajin lurik di Kecamatan Cawas, Pedan, Delanggu, serta yang tersebar di sejumlah daerah di Klaten juga bernasib sama. Mereka merasakan betul dampak dari kehebatan teknologi yang mampu menciptakan beribu-ribu meter kain lurik-lurik dalam sehari dengan harga sangat murah. “Jika terus-terusan seperti ini, pengrajin lurik di Klaten mungkin tinggal kenangan,” keluh Miss Shobach, pengusaha lurik dari Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas.

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…