Rabu, 23 Februari 2011 21:15 WIB Karanganyar Share :

Kasus antraks tak pengaruhi penjualan daging

Karanganyar (Espos)–Penyakit antraks yang menyerang sejumlah ternak dan beberapa warga di Boyolali tak mempengaruhi penjualan daging sapi di sejumlah pasar di Karanganyar. Beberapa pedagang mengaku penjualan dagingnya normal dan tak mengalami penurunan.

Salah satu pedagang daging di Pasar Jungke, Sumiyati, 48, mengatakan, setiap hari daging yang dijualnya ludes dibeli. Daging sapi per kilogram ia jual dengan harga Rp 55.000. “Setiap hari saya dipasok daging sapi dari juragan yang memotong sapi di pemotongan hewan (RPH) Gondangrejo. Saya mengambil 12 kilogram, dan Alhamdulillah setiap hari bisa habis,” ujar Sumiyati saat ditemui Espos di Pasar Jungke, Rabu (23/2) .

Ia juga mendengar adanya penyakit antraks yang menyerang sapi dan beberapa warga di Boyolali, melalui media massa. Namun ia dan sejumlah pedagang lain tidak terlalu waswas dengan kabar tersebut. Ia percaya daging sapi yang ia jual itu tidak berpenyakit sebab disembelih di RPH milik Pemkab. Sebelum dan sesudah disembelih, kata dia, organ sapi dicek kondisinya. Beberapa pelanggannya pun setiap hari tetap membeli daging sapi itu.

Hal senada diungkapkan pedagang lain, Sri Rejeki. Setiap sepekan sekali, ada sejumlah petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar yang mengambil sampel daging yang dijual oleh pedagang di sana.

“Katanya daging itu diambil untuk diperiksa apakah ada penyakitnya atau tidak. Tapi saya sendiri tidak tahu apakah dagingnya ada penyakitnya atau tidak, sebab setelah daging diambil sebesar ruas jari, hasilnya tidak diberi tahu,” katanya. Selama ini, ia juga mengambil daging yang dipasok dari seorang jagal sapi di Tuban, Gondangrejo dan tidak menerima pasokan daging sapi dari perorangan atau peternak sapi.

fas

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…