Selasa, 22 Februari 2011 23:37 WIB Sukoharjo Share :

Cinta terlarang Maulana kandas dibui

Borgol melekat dan mengaitkan kedua tangan Maulana Nur Rosyid, 24, warga Sukomulyo RT 6/RW VI, Kadipiro, Banjarsari, Solo, saat diinterogasi polisi di Mapolres Sukoharjo, Selasa (22/2).

Dia lebih banyak menundukkan kepala dan berbicara lirih saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai aksi pembunuhannya kepada Dita Ajeng Prastyana, 14, warga Pucangsawit, Jebres, Solo, Rabu (16/2) lalu itu. “Putri saya satu, usianya empat tahun,” katanya seraya menjelaskan status.

Residivis kasus penjambretan itu mengaku telah mengenal korban sebulan terakhir, yakni setelah dikenalkan oleh saudaranya, Paksi, 18. Rupanya kurun waktu perkenalan itu, cukup membuat Maulana gandrung kepada korban dan rela menjalani cinta terlarang di antara status pernikahannya dengan wanita lain.

“Saya sayang, Dita imut,” tuturnya terhadap korban yang dihabisinya di hutan karet Polokarto itu.

Namun cintanya kepada Dita itu bertepuk sebelah tangan. Tiga hari sebelum kejadian, Maulana telah menyatakan perasaannya itu kepada korban. “Tiga hari sebelumnya, saya sudah <I>nembak<I> di pinggir jalan. Tapi Dita menolak,” tuturnya.

Dan, keputusan Dita itu rupanya masih mengganjal hati Maulana. Pertemuannya di pertigaan Sekarpace, Jebres, Solo,dua jam sebelum kejadian, diakuinya sebagai upayanya menegaskan keputusan gadis itu. Namun jawaban Dita yang diutarakan kepada Maulana di hutan karet Polokarto, Sukoharjo masih menunjukan korban belum berubah pikiran.

Sayangnya, Maulana tak legawa mendengar penegasan jawaban Dita. Gelap mata, Maulana pun menghabisi Dita hingga meninggal dunia.
Maulana mengaku upaya pernyataan cintanya itu bertendensi memacari Dita. Namun kenapa Maulana begitu tega menghabisi gadis pujaannya itu?

Sedikit membuka kisah lalu, Maulana pun mengaku memiliki trauma kepada seorang gadis yang dipacarinya saat duduk di bangku SMP. Tak begitu jelas siapa dan bagaimana kisahnya itu. Namun kenyataanya, Maulana masih mengingat kekecewaan hatinya itu sampai saat ini.

“Dulu saya pernah kecewa dengan pacar saat SMP, saya di-gawek-gawekke. Tak tahu kenapa, tapi sebenarnya saat itu kami sudah jadian,” bebernya.

Kini, dia pun terpisah dengan istri dan putrinya. Tak hanya itu, Maulana juga harus terpisah dari matapencaharian untuk menghidupi istri dan anaknya itu, yakni pekerjaan kuli panggul di Pedaringan, Jebres, Solo. “Pekerjaan saya serabutan, tapi sering menjadi kuli panggul di Pedaringan,” tutupnya.

ovi

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…