Senin, 21 Februari 2011 16:03 WIB Solo Share :

Roh sekaten dinilai semakin memudar

Solo (Espos) – Pelaksanaan Maleman Sekaten tahun ini perlu dievaluasi. Arena permainan yang tidak memiliki korelasi edukasi dan budaya untuk
dikurangi pada pelaksaanan Sekaten tahun mendatang.

Pemerhati budaya Solo, Setiawan, memaparkan Maleman Sekaten
semakin jauh dari nilai edukasi dan budaya. “Rohnya sekaten semakin ke sini kok semakin memudar. Banyak dan semakin berkembang arena hiburan tapi minim sisi pendidikan dan budaya,” katanya, Senin (21/2).

Sekaten, katanya tidak berbeda dengan pasar malam atau bazaar kampung yang hanya menyajikan sisi hiburan dan belanja. “Dulu ada kesenian dari luar kota, ada ludruk, ketoprak, lengger, jadi orang ke sekaten mau lihat hiburan budaya, tidak sekedar belanja,” katanya.

Untuk itu, ia berharap manajemen sekaten perlu ada pembenahan dan
dilakukan upaya memrioritaskan unsur edukasi dan budaya bagi pihak
yang ingin berpartisipasi. Dengan bermacamnya hiburan bernilai edukasi
dan budaya akan semakin menarik wisatawan untuk berkunjung ke Solo.

aha

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…