Senin, 21 Februari 2011 12:46 WIB News Share :

PT DI dan Korsel kerja sama buat pesawat tempur lebih canggih dari F16

Jakarta (Espos) – Data penting milik Indonesia diduga dicuri di Seoul. Konon data berisi rencana kerja sama pembuatan 50 unit pesawat tempur di PT Dirgantara Indonesia (DI). Pihak PT DI membenarkan ada kerja sama dengan Korsel dalam pembuatan pesawat tempur KFX yang lebih canggih dari F16.

“Sepengatahuan kami, antara pemerintah kita dan Korsel berencana membuat pesawat tempur KFX,” ujar Kepala Humas PT DI Rakhendi Triyatna di Jakarta, Senin (21/2).

Namun, Rakhendi tidak mengetahui banyak mengenai kabar pencurian data delegasi Indonesia di Seoul, termasuk apakah informasi data kerja sama pembuatan pesawat KFX tersebut yang dicuri. Dia hanya tahu kabar pencurian data itu dari media.

Bagaimana dengan rencana kerjasama pengadaan T-50 Golden Eagle? “Setahu saya baru yang ini (KFX),” lanjut Rakhendi.

Rencana pembuatan bersama pesawat tempur KFX masih dibicarakan di tingkat pemerintah. Dia menambahkan teknisnya akan melibatkan PT DI.

“Tapi sejauh mana melibatkan PT DI, masih sangat terbatas infonya,” imbuhnya.

Rakhendi menambahkan, kedua pemerintah akan merancang dan memproduksi pesawat itu. Pada 2020 diperkirakan sudah ada realisasinya.

“Pesawat itu (KFX), menurut tim ahli kelasnya di atas F16 dan di bawah F35,” tambahnya.

Menurutnya, kerjasama pembuatan pesawat tempur antara RI dengan Korsel baru kali pertama ini. Sebelumnya Korsel-lah yang memberi order pemesanan pesawat.

“Sebelumnya Korsel ini yang selalu mengasih order atau membeli CN-235. Delapan Sudah operasi dan empat sedang tahap pengerjaan. Sebelumnya yang delapan itu untuk AU dan yang empat untuk patroli pantai,” beber Rakhandi.

KFX merupakan proyek lama Republic of Korea Air Force (ROKAF). Jika dibandingkan dengan F-16, KFX diproyeksi memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, memiliki sistem avionic yang lebih baik dan juga kemampuan kemampuan anti radar atau stealth.

Delegasi Indonesia yang dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa ke Korea Selatan, dikabarkan menjadi korban pencurian. Data rahasia militer delegasi Indonesia diduga dicuri di kamar hotel tempat mereka menginap.

Namun pihak Kementerian Pertahanan membantah ada data militer yang hilang. Kemhan  menjelaskan laptop yang sempat hilang milik staf ekonomi, bukan milik delegasi Kemhan.

Terkait pencurian data itu, Media Korsel, Chosun Ilbo menyatakan belum dikonfirmasi apakah Indonesia telah mengajukan keluhan diplomatik atas pembobolan itu, tapi Jakarta telah mengetahui keterlibatan NIS (Badan Intelijen Korsel) sekarang.

dtc/try

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…