Minggu, 20 Februari 2011 11:49 WIB Solo Share :

Solo Art Vaganza penuh warna

Pelaksanaan Solo Art Vaganza dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun (HUT) ke-266 Kota Solo, Minggu (20/2), berjalan meriah. Puluhan kegiatan hadir di ajang Solo Car Free Day di sepanjang Jl Slamet Riyadi.

Dari ujung timur, setiap pengunjung akan disuguhi dentuman alat musik dari grup band anak D’ Troy yang menggelar konser di atas mobil pemadam kebakaran. Meski semua personel band ini masih duduk di bangku sekolah, permainan musik mereka cukup atraktif. Tak heran banyak pengunjung yang berhenti sejenak untuk ikut larut dalam lagu-lagu yang dibawakan mereka.

Kehadiran crop cirle di jalanan beraspal menjadi magnet tersendiri para pengunjung. crop circle ini terbuat dari air minum kemasan. Bentuknya melingkar dan memiliki susunan menarik. Crop circle tentu bukan buatan makhluk luar angkasa, melainkan hasil kreasi tangan-tangan mungil siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sekar Mekar Kadipiro. Untuk membuatnya, dibutuhkan sekitar 100 air minum kemasan yang berisi 40 buah dengan durasi sekitar satu jam.

Setiap pengunjung yang melintasi crop circle itu hampir pasti menghentikan langkahnya. Sejumlah pengunjung tampak terkesima dengan keindahan bentuk crop circle buah karya siswa PAUD itu. Tak jarang para pengunjung mengabadikan crop circle tersebut melalui kamera. “Menarik sekali bentuknya, apalagi dibuat oleh anak-anak PAUD,” tukas Nia, 25, salah seorang pengunjung yang mengabadikan crop circle dengan kamera dalam Ponselnya.

Selain crop circle, Solo Art Vaganza juga dimeriahkan sejumlah orang bertopeng Gayus yang mengenakan wig serta berkacamata. Sembari menarik sebuah tas, para “Gayus” itu berkeliling layaknya sedang pelesiran. Aksi para “Gayus” tersebut merupakan kritik bagi para penegak hukum negeri ini yang begitu mudahnya menerima suap.


mkd

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…