Minggu, 20 Februari 2011 20:24 WIB Kolom Share :

Mencintai warga sebagai kekasih sejati

Mulyanto Utomo

Judul tulisan ini, jujur, terinspirasi artikel yang ditulis Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib di  Harian Kompas, 2009 silam, setelah hari Minggu kemarin saya menyaksikan berduyun-duyunnya warga menikmati karnaval yang digelar oleh Pemerintah Kota Solo.

Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jl Slamet Riyadi. Tetangga sekampung saya, Mas Wartonegoro dan tentu saja karibnya Raden Mas Suloyo berbondong-bondong beserta seluruh anggota keluarganya bergairah menyambut kegiatan langka itu.

“Ini namanya karnaval, pawai, untuk menunjukkan kepada warga bahwa para pamong praja itu telah bekerja sungguh-sungguh,” kata Mas Wartonegoro berbisik kepada Denmas Suloyo.

“Apa memang sudah berhasil ta?” tanya Denmas Suloyo.

Lha paling tidak kan mereka sudah bisa menunjukkan bus tingkat… railbus… dan segala macamnya itu,” papar Mas Wartonegoro.

Tak bisa dipungkiri, warga memang terlihat girang bukan kepalang bahkan sebagian di antaranya ada yang berdecak kagum saat menyaksikan kehadiran bus tingkat dan railbus yang masih kinclong itu. Para pirsawan karnaval yang berdiri berjubel di samping kanan dan kiri mereka saling berkomentar, “Elok tenan yo sepure…” “Bise apik tenaannn…

Celetukan-celetukan seperti itulah yang mengalir dari warga. Mereka membayangkan, akankah suatu ketika akan bisa menikmatinya. Duduk bak seorang turis asing di kursi double decker bagian atas sambil motret sana motret sini. Atau bisakah suatu saat nanti menikmati mulusnya kereta api yang tampak bagai kendaraan modern di luar negeri itu?

”Semoga ini tidak sebatas dipertunjukkan ya Mas. Moga-moga pengadaan bus tingkat, bus kereta dan segala bentuk pembangunan yang dilaksanakan pemerintah itu benar-benar sebagai bentuk kecintaan mereka kepada kita, warga yang biasa-biasa saja ini ya,” cerocos Denmas Suloyo.

”Ya tentu saja kita berharap seperti itu. Jangan sampai terjadi salah urus, salah kelola dan salah perhitungan karena mereka hanya berhitung untung rugi, popularitas dan segala hal yang sifatnya instan hanya demi kepentingan pribadi abdi negara,” timpal Mas Wartonegoro.

Kekasih sejati
Begitulah. Kota Solo memang telah menunjukkan kemajuannya dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini. Namun semua aksesori yang kini tengah dibangun, sesuai harapan warga, hendaknya dengan satu tujuan yaitu untuk kesejahteraan warga. Selain itu, juga merupakan bentuk kecintaan mereka yang diberi amanah memimpin kepada rakyatnya.

Seperti pernah ditulis Cak Nun, rakyat Indonesia dan tentunya juga warga Kota Solo dan sekitarnya sesungguhnya memiliki pola kearifan, empati dan toleransi, serta semacam sopan santun yang khas dan luar biasa. Bagi rakyat, Ibu Pertiwi itu semacam ibunya, Negara (KRI) itu semacam bapaknya dan pemerintah itu kekasihnya. Kekasih yang selalu disayang, dimaklumi, dimaafkan. Suatu saat rakyat bisa sangat marah kepada pemerintah, tetapi cintanya tetap lebih besar dari kemarahannya sehingga ujung kemarahannya tetap saja menyayangi kembali, memaklumi, dan memaafkan.

Kata Cak Nun, rakyat Indonesia sangat tangguh sehingga posisinya bukan menuntut, menyalahkan, dan menghukum pemerintahnya, melainkan menerima, memafhumi kekurangan dan sangat mudah memaafkan kesalahan pemerintahnya. Bahkan, rakyat begitu sabar, tahan dan arifnya tatkala sering kali mereka yang dituntut, dipersalahkan dan dihukum oleh pemerintahnya. Itulah kekasih sejati.

”Kekasih sejati memiliki keluasan jiwa, kelonggaran mental dan kecerdasan pikiran untuk selalu melihat sisi baik dari kepribadian dan perilaku kekasihnya. Prasangka baik dan kesiagaan bersyukur selalu menjadi kuda-kuda utama penyikapannya terhadap pihak yang dikasihinya. Kekasih sejati tidak memelihara kesenangan untuk menemukan kesalahan kekasihnya, apalagi memperkatakannya. Kegagalan kekasihnya selalu dimafhuminya, kesalahan kekasihnya selalu pada akhirnya ia maafkan,” papar Cak Nun.

Menyimak apologi yang digambarkan Cak Nun, tentunya seluruh warga berharap pemerintah tidak berkhianat. Mestinya ada timbal balik nyata dari bentuk kecintaan warga yang ditunjukkan secara sosiologis kepada pemerintahnya. Jangan sampai kondisi itu justru dimanfaatkan para priyagung abdi negara atas keadaan cinta rakyat yang luar biasa itu atas kekasih sejatinya.

Pembangunan harus terus menerus mengacu, berorientasi dan ditujukan kepada rakyatnya. Jika ini benar-benar dilaksanakan secara benar, kecintaan rakyat kepada sang kekasih sejati pasti akan terus bertambah-tambah.

Baru dipertontonkan bentuk-bentuk keberhasilan yang belum nyata benar kemanfaatannya bagi mereka saja warga sudah bergembira ria. Apalagi jika hal itu terus dipelihara, diwujudkan dalam hasil dan manfaat nyata, kecintaan warga akan kekasih sejatinya itu pasti akan meningkat sepanjang hayat.

Mulyanto Utomo
Wartawan SOLOPOS

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…