Sabtu, 19 Februari 2011 11:02 WIB News Share :

Putusan MA terkait Susu Bakteri dinilai keliru

Jakarta (Espos) – Belum diterimanya salinan putusan MA menjadi landasan bagi IPB untuk tidak mengumumkan produsen susu berbakteri. Namun putusan MA itu sendiri dianggap kurang tepat.

“MA bermasalah, MA berpendapat penelitian Sri Estuningsih dari IPB baru dikatakan diduga, sesuatu yang diduga kok disebarluaskan, sesuatu yang belum jelas masa disebarluaskan, jangan disebarluaskan kecuali terbukti atau ditemukan,” ujar Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Indah Suksmaningsihsaat acara diskusi Polemik Radio Trijaya di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (19/2).

“Ini saya mendapat kopian putusannya langsung dari David Tobing si pihak penggugat,” sambung Indah sambil menunjukkan kopian putusan MA.

Menurut Indah, Mahkamah Agung diminta harus memperbaiki dahulu susunan putusannya tersebut agar tidak meresahkan masyarakat.

“Itu betulin dulu, jangan diduga harusnya yang kan yang sudah dipastikan” tegasnya.

Polemik ini bermula ketika para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan kontaminasi Enterobacter Sakazakii sebesar 22,73 persen dari 22 sampel susu formula yang beredar tahun 2003 hingga 2006. Hasil riset itu dilansir Februari 2008. Namun, IPB tidak bersedia menyebut merek susu yang dimaksud. Begitu juga pihak Kemenkes.

Menkes pun digugat di PN Jakarta Pusat untuk mengumumkan susu yang mengandung bakteri tersebut. Bahkan putusan di tingkat Kasasi telah memerintahkan agar Kementerian Kesehatan segera mengumumkan susu yang mengadung bakteri tersebut. Dengan alasan belum menerima salinan surat putusan kasasi MA terkait susu Formula.

Seperti dikutip dari putusan MA, majelis hakim yang diketuai oleh Ketua MA, Harifin Tumpa memberikan 3 pertimbangan atas putusannya. Pertama, hasil penelitian ini yang tidak dipublikasikan mengakibatkan keresahan dalam masyarakat karena dapat merugikan konsumen.

Kedua, suatu penelitian yang telah dilakukan yang menyangkut suatu kepentingan masyarakat harus dipublikasikan agar masyarakat lebih waspada. Dan ketiga, tindakan tidak mengumumkan hasil penelitian adalah merupakan tindakan yang tidak hati-hati yang dilakukan Tergugat

dtc/try

lowongan pekerjaan
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…