Jumat, 18 Februari 2011 18:17 WIB Pendidikan Share :

52 Pelajar kena razia, sekolah harus instrospeksi

Solo (Espos)–Sekolah-sekolah di Solo diminta melakukan introspeksi diri terhadap manajemen sekolah yang diterapkan. Hal ini menyusul terjaringnya 52 siswa Solo dalam razia pelajar, 9-10 Februari lalu.

Hal itu ditekankan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Solo, Rakhmat Sutomo, saat memberikan pengarahan kepada kepala sekolah (Kasek) 16 sekolah yang muridnya terkena razia. Pengarahan diadakan di aula Disdikpora Solo, Jumat (18/2).

Sebagaimana disampaikan Kepala Bidang Pemuda Disdikpora Solo, Kelik Isnawan, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Jumat, Rakhmat Sutomo meminta Kasek mengadakan introspeksi diri terhadap pengelolaan pendidikan di sekolah masing-masing. Apakah ketika ada siswa membolos sekolah, guru yang kebetulan mengajar pada jam itu mengetahui perihal siswa yang membolos.

Selanjutnya ketika guru mengetahui ada siswa yang membolos, apakah guru tersebut kemudian menindaklanjuti temuan itu dengan melaporkan siswa tersebut kepada wali kelas untuk selanjutnya dilaporkan kepada Kasek. Lalu apakah Kasek juga menindaklanjutinya dengan mengundang siswa tersebut, atau melaporkannya kepada orangtua siswa?

“Atau sebaliknya ketika guru mengetahui ada siswa yang membolos, mereka tak peduli sehingga tidak ada tindakan selanjutnya. Hal ini perlu dievaluasi agar siswa yang membolos terdeteksi,” terangnya.

Kadisdikpora, kata Kelik, menekankan agar guru atau Kasek tidak hanya menyalahkan siswa yang membolos. Tapi sebaiknya ada introspeksi pengelolaan pendidikan di masing-masing satuan pendidikan sehingga ada langkah antisipasi agar siswa tidak membolos lagi.

Terjaringnya 52 siswa saat diadakan razia pelajar yang dilakukan oleh Satpol PP, pihak kepolisian, Disdikpora dan Kemenag Solo beberapa waktu lalu, ujarnya, mengundang keprihatian sejumlah pihak. Sehingga Kadisdikpora Solo kemudian mengumpulkan para Kasek dari siswa yang terkena razia itu, dengan harapan ada penanganan terpadu.

Bukan hanya penanganan terhadap siswa yang membolos, tapi juga kepada guru di sekolah. “Sehingga penanganan yang dilakukan tidak parsial, tapi komprehensif. Terlebih saat ini Solo sedang menggalakkan pendidikan karakter,” kata Kelik.

Terkait siswa yang terkena razia itu, ujarnya, sudah mendapatkan pembinaan dari Satpol PP. Mereka terdiri dari siswa SD, SMP, SMA. Bukan hanya siswa dari sekolah pinggiran, pada kenyataannya siswa yang terjaring razia, juga ada yang berasal dari sekolah favorit.

ewt

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…