Kamis, 17 Februari 2011 16:27 WIB Tokoh Share :

Ririen Wiropranoto-Lim
Impian wajib diperjuangkan

Ririen Wiropranoto-King. Foto: Chrisna Canis Cara

Tercapainya cita-cita tak bisa dilepaskan dari kemantapan visi seseorang dalam menjalani hidup. Hal itu tercermin pada diri Ririen Wiropranoto-Lim, pendiri sekaligus Direktur Focus Independent School (FIS) Solo. Sejak lulus SMA, perempuan kelahiran 3 Juli 1973 itu telah berkeinginan memiliki sekolah sendiri.

“Saya terinspirasi sosok Lady Diana yang notabene guru TK. Dari situlah saya bermimpi mempunyai TK sendiri,” urainya saat ditemui Espos di ruang kerjanya, Rabu (16/2).

Berkat kerja keras dan fokus pada impian, istri Brad Lim itu pun berhasil menggapai cita-citanya. Enam tahun lalu, perempuan berkulit putih ini sukses mendirikan FIS. Sekolah yang memiliki International Middle Years Curriculum dari Inggris itu kini telah memunyai jenjang pendidikan dari mulai bayi hingga SMP.

“Kini persaingan telah mengglobal. Kita semua adalah warga dunia dewasa ini. Oleh karena itu, anak harus dibekali wawasan internasional sejak dini,” terang dia.

Perempuan yang diam-diam memiliki impian menjadi jurnalis ini telah menggeluti dunia pendidikan sejak tahun 1998. Berbagai sekolah serta lembaga berbasis internasional telah ia singgahi. Menurutnya, kemampuan berbahasa ialah salah satu kunci penting dalam menjawab tantangan global.

“Di samping bahasa, attitude dan independensi juga harus baik. Kemampuan kognitif tanpa disertai ketiga hal itu sama saja hampa,” ujarnya.

Ke depan, perempuan yang memiliki obsesi keliling dunia ini ingin lebih mengembangkan pendidikan di Indonesia, khususnya Solo lewat FIS. Bulan Juni nanti, dirinya akan ke Melbourne untuk mengikuti Green Program. Sementara bulan September, dia sudah bersiap-siap terbang ke Inggris mengikuti training kurikulum internasional.

“Sebelumnya saya pernah mengikuti program pengembangan kurikulum di beberapa negara di Asia. Harapannya, ilmu tersebut bisa kami share kepada masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Walaupun concern pada pendidikan internasional, Ririen sama sekali tak melupakan akarnya. Perempuan kelahiran Solo ini tetap menanamkan nilai-nilai budaya Jawa kepada anak didiknya.

“Beragam kegiatan seperti pekan wayang, Javanese Culture Week serta pelestarian lagu dolanan menjadi menu rutin FIS. Hal tersebut tak lain untuk melestarikan budaya kita,” ungkapnya.

Dalam menjalani hidup, perempuan berambut lurus ini memegang teguh makna kerja keras. Menurutnya, semua impian bisa terwujud asal dibarengi semangat pantang menyerah. “Kita wajib memperjuangkan impian yang kita punya, bagaimanapun caranya,” tutupnya. (Chrisna Chanis Cara)

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…