Kamis, 17 Februari 2011 14:48 WIB Tak Berkategori Share :

Lapan
Kilatan matahari besar baru terjadi 2013/2014

Jakarta — Peneliti Amerika Serikat (AS) melansir peringatan badai geomagnetik akibat kilatan matahari yang terbesar dalam empat tahun. Namun Lapan mempunyai pendapat lain. Kilatan yang terjadi Selasa (15/2) lalu tidak terlalu signifikan.

“Iya, kita memantau juga tapi dari data kita tidak terlalu besar ya, masih biasa saja” kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antarika Lapan Sri Kaloka saat berbincang dengan detikcom, Kamis (18/2).

Menurutnya, jika kilatan tersebut tergolong besar dan berdampak pada bumi, maka pihaknya akan menginformasikan kepada publik. “Kita akan beri peringatan kalau memang itu akan berdampak kepada bumi,” katanya.

Sri Kaloka mengatakan, dalam dunia astronomi, kilatan matahari tersebut biasa disebut flare atau bisa juga disebut lontaran massa korona (CME). Kilatan-kilatan ini sering sekali terjadi di matahari.

“Itu memang sering terjadi di matahari ya, ada yang besar dan ada yang kecil,” kata Sri Kaloka. Menurutnya, lontaran matahari terbesar biasa terjadi dalam siklus 11 tahun sekali. Terakhir terjadi pada tahun 2000-an.

“Waktu itu kita belum terlalu berasa dampaknya karena handphone di Indonesia juga belum sebesar ini kan. Tapi di Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang, dampaknya sudah sangat terasa waktu itu,” katanya.

Menurutnya, kilatan matahari terbesar selanjutnya akan terjadi pada tahun 2013 atau 2014. “Dulu diprediksi tahun 2012 karena pada tahun 2008, titik-titik matahari sudah mulai naik dan puncaknya pada tahun 2011. Makanya ada isu kiamat itu lho,” kata Sri Kaloka.

“Tapi dari hasil pengamatan, titik matahari belum banyak muncul sampai sekarang, jadi sepertinya akan bergeser sekitar tahun 2013 atau 2014.” kata Sri Kaloka.

Menurutnya, saat kilatan terjadi, matahari sebenarnya sedang melontarkan partikel, ion, proton, dan juga medan magnet. Jika lontaran partikel magnet tersebut besar, artinya jumlah partikel magnet banyak dengan kecepatan tinggi, maka akan terjadi badai yang biasa disebut badai magnet atau geomagnetik.

“Kalau kecepatannya biasa saja ya bukan badai. Sama saja dengan angin, kalau kecepatannya biasa saja ya rasanya enak, tapi kalau kencang, namanya badai. Di matahari begitu juga,” kata Sri Kaloka.

Selain listrik, badai matahari tersebut juga bisa menggangu satelit komunikasi di luar angkasa. Jika partikel magnet tersebut mengenai satelit, maka akan menggangu power supply sehingga menyebabkan satelit tersebut mati.

“Nah, jadinya akan mengganggu komunikasi di bumi,” katanya.

Sri Kaloka mengatakan, badai matahari ini memang tidak mengancam jiwa manusia secara langsung. Namun sangat mungkin mengganggu sistem global positioning system (GPS) yang biasa terdapat di pesawat.

“Ini juga bisa mengganggu akurasi GPS di dalam pesawat dan sistem GPS di mana saja. Makanya kita juga sudah ada koordinasi dengan PT Angkasa Pura untuk peringatan seperti ini. Kalau ada yang mengganggu, kita akan sampaikan karena ini bisa membahayakan,” katanya.

Badai magnet juga bisa mengganggu sistem navigasi pada burung-burung. “Burung-burung yang terbang bisa terganggu sistem navigasinya, jadi kalau ada burung-burung yang dipakai untuk mengirim pesan, bisa saja tersesat akibat badai magnet ini,” katanya.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…