Kamis, 17 Februari 2011 00:10 WIB Solo Share :

Bezuk Heru, Ririn selalu usahakan bawa sambal terasi dan chinese food

Solopos.com — Tak seperti biasanya, susana Rutan Solo Rabu (16/2) sore agak ramai pengunjung. Sebagian pengunjung rupanya hendak menjenguk mantan anggota DPRD Solo periode 1999-2004 Heru S Notonegoro.. Dia baru saja dieksekusi atas vonis 1 tahun penjara oleh MA sejak Senin (14/2) sore.

Sejumlah tukang becak yang mangkal di depan Rutan Solo itu bukan sesuatu yang aneh. Menurut mereka, jika terdapat lonjakan jumlah pembesuk, itu artinya ada seorang tokoh atau orang yang berpengaruh dijebloskan ke rumah tahanan kelas I itu.

“Di Rutan ini bisa ditebak. Kalau jumlah pembesuk cukup banyak, pasti ada orang terkenal yang baru dimasukkan, ya seperti Pak Heru S Notonegoro itu,” kata seorang tukang becak yang enggan disebut namanya saat ditemui Espos di depan Rutan Solo.

Isteri Heru S Notonegoro, Ririn S Notonegoro menyebut, sejak pagi hingga siang hari, suaminya memang didatangi sejumlah tamu mulai kerabat, keluarga, rekan pengacara, dan elemen masyarakat lainnya.

“Banyak banget yang datang. Intinya, mereka memberikan dukungan moral kepada suami saya,” jelasnya.

Ditemui wartawan di depan Rutan Solo, Ririn dengan senang hati menjawab seluruh pertanyaan para kuli tinta itu. “Kondisi dia baik-baik saja. Dia masih bisa tersenyum dan justru memberikan wejangan kepada keluarga untuk terus sabar. Hal itu ditujukan pula kepada anak-anak,” jelasnya.

Selama menjalani hukuman penjara, Ririn pun berikrar untuk selalu membesuk suaminya secara berkesinambungan. Tak lupa, dirinya akan
membawakan makanan kesukannya, yakni chinese food dan sambal terasi.
“Dia paling suka makanan itu. Saya akan membawakan makanan kesukaanya. Ini bentuk kecintaan saya terhadap suami saya,” jelas dia.

Kendati Heru S Notonegoro dinilai menjadi seorang publik figur di Kota Bengawan, namun pengelola Rutan memastikan tidak ada perlakuan khusus
terhadap pengacara kondang tersebut. Sebaliknya, segala hak dankewajiban sebagai penghuni Rutan akan diberikan sesuai peraturan yang berlaku. “Tidak ada yang istimewa. Pak Heru kami tempatkan di kamar nomor 8 di Blok B. Di sana, dia berkumpul jadi satu dengan 7-8 orang lainnya,”
kata Kepala Keamanan Rutan, Oga mewakili Karutan Solo, Azwar.

Tidak adanya perlakuan khusus itu juga dilakukan pengelola Rutan saat menerima kiriman makanan dari para pembesuk. Setiap ada barang kiriman berbentuk apapun, akan diperiksa ekstra ketat.
“Termasuk juga makanan. Kalau ada kiriman makanan, pasti akan kami cek. Bahkan, sampai nasinya kami jojohi dengan alat khusus
guna memastikan tidak ada barang yang dianggap membahayakan,” jelasnya.

Pengelola Rutan juga tidak sembarangan memberikan izin terhadap pembesuk Heru S Notonegoro. Setiap pembesuk yang diperbolehkan
menemuinya harus mendapatkan izin dari Heru S Notonegoro dan pengelola Rutan. “Kondisi Pak Heru kami pastikan baik-baik saja,” katanya. Ponco Suseno

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…