Rabu, 16 Februari 2011 09:25 WIB News Share :

MUI Jatim minta semua pihak menahan diri

Pasuruan (Espos) – MUI Jatim mengaku heran adanya rentetan tindakan anarkis mengatasnamakan agama yang terjadi di Indonesia dengan kasus terakhir di Pasuruan. MUI Jatim meminta agar semua pihak menahan diri atas insiden penyerangan Ponpes Alma’hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Panep, Beji.

“Agar semua pihak menahan diri. Jangan ketularan seperti di daerah lain,” kata Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori, Selasa (15/2).

Abdussomad mengimbau agar setiap konflik yang terjadi hendaknya diselesaikan dengan baik tanpa kekerasan. Faktor penyebabnya pun harus dicari agar peristiwa yang terjadi di daerah lain tidak terulang.

“Kita perlu kewaspadaan dini. Lebih baik cari penyebabnya sebelum terjadi daripada mencari penyebab setelah kejadian,” tambah dia.

Abdussomad menambahkan bahwa rencananya hari ini MUI akan mengundang Pemrov Jatim guna membahas masalah ini. Konflik seperti yang terjadi di Pasuruan harus diredam agar kondisi Jatim yang kondusif tidak terpengaruh dengan kondisi serupa di luar Jatim.

Apakah ada rekonstruki membawa kerusuhan mengatasnamakan agama ke Jatim, Abdussomad memilih mneyrahkannya ke polisi. Polisi, kata Abdussomad, diharapkan bisa menjalankan fungsinya agar konflik seperti di Pasuruan tidak merembet ke daerah lain di Jatim.

“Apakah ada upaya membikin Jatim rusuh, itu urusan intel polisi. Sekali lagi, semua pihak harus bisa menahan diri. Tetapi semua pihak juga jangan ada yang berusaha memancing,” tandas Abdussomad.

dtc/try

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…