Rabu, 16 Februari 2011 20:34 WIB Boyolali Share :

Lahar dingin munculkan danau baru di Kali Apu

Boyolali (Espos)--Sejumlah warga Desa Klakah, Kecamatan Selo dikejutkan dengan munculnya sebuah danau di aliran Kali Apu. Danau dengan panjang sekitar 70 meter dan lebar 25 meter itu berada sekitar 50 meter di bawah tebing. Selain itu, danau itu berada sekitar tiga kilometer dari puncak Merapi.

Dari pantauan Espos di lokasi, Rabu (16/2), air danau terlihat tenang dan berwarna hijau. Meski berada di aliran Kali Apu, namun untuk mencapai lokasi cukup sulit. Pasalnya, dari Dukuh Klakah Duwur, Desa Klakah hanya bisa ditempuh dengan motor menyusuri jalan setapak sejauh sekitar 2,5 km. Bahkan, harus melewati areal ladang milik penduduk setempat.

Selain itu, untuk melihat kondisi danau juga harus ekstra hati-hati. Pasalnya tebing di sekeliling danau sangat rawan longsor. Bahkan di beberapa titik sudah ada retakan.

Salah seorang warga setempat, Kasdi, 55, mengatakan danau itu terbentuk sekitar sepuluh hari lalu. Saat itu, kawasan puncak Merapi dan Kali Apu dilanda banjir lahar dingin. Setelah terjadi banjir, tebing Gunung Nganten yang berada kedua sisi danau itu longsor. Akibatnya membendung aliran air di Kali Apu.

Daerah kering

“Tiba-tiba setelah terbendung itu muncul danau yang cukup besar seperti saat ini,” ujarnya kepada wartawan di lokasi, Rabu. Kasdi menuturkan ada kejadian menarik terkait munculnya danau tersebut. Awalnya, lokasi danau itu merupakan daerah kering dan berisi tumpukan material pasir dan batu. Namun, setelah ada banjir lahar dingin, justru muncul danau dengan warna hijau.

“Awalnya memang tanah kering. Tetapi justru saat ini baru kali ini muncul danau alam,” papar dia.

Senada, warga Klakah Duwur, Panut menuturkan hingga saat ini belum ada warga yang memanfaatkan air danau tersebut. Hal itu, jelas Panut, warga masih khawatir jika memanfaatkan air di danau tersebut.

“Kondisi cuaca juga belum memungkinkan memanfaatkan air danau itu,” jelas dia.

Terpisah, relawan Merapi, Tumari Nur Ahmad menjelaskan munculnya danau tersebut juga baru diketahui warga dalam beberapa hari ini. Pasalnya, hanya beberapa warga saja yang beraktivitas di ladang yang mengetahui keberadaan danau tersebut.

“Dulu memang pernah ada danau seperti itu di sebelah timur atau arah menuju puncak Merapi. Tetapi setelah ada banjir lahar danau itu hancur dan beralih di dekat Gunung Nganten tersebut,” jelas dia.

Tumari menuturkan meski danau terlihat indah dari atas tebing, namun kondisi yang masih sangat rawan longsor, hal itu tidak banyak warga yang mengetahui adanya danau tersebut.

“Terlebih untuk menjangkau ke lokasi dengan medan yang sangat terjal juga menjadi kendala tersendiri untuk melihat danau alam itu,” papar dia dia.

Menurut Tumari, keberadaan danau itu juga seperti mengerem luncuran material dari puncak Merapi. Pasalnya, sejak banjir lahar dua dam Kali Apu telah jebol. Hal itu mengakibatkan kawasan muara Kali Apu yang berada di Kabupaten Magelang dipenuhi dengan material pasir dan batu.

fid

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…