Rabu, 16 Februari 2011 08:56 WIB News Share :

Disayangkan, penyerangan Ponpes Yapi hanya karena perbedaan madzhab

Jakarta (Espos)– Penyerangan sekitar 100 orang terhadap Yayasan Pondok Pesantren Islam (Yapi) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Selasa, hanya karena masalah perbedaan madzhab, disayangkan para pengurus Yapi.

Dewan Pembina Yapi, Habib Ali bin Umar yang dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa, mengaku bahwa pondoknya memiliki madzhab Ja`fari sedangkan kelompok penyerang tersebut mengaku berasal dari Ahlussunnah Wal Jamaah.

“Perbedaan madzhab dalam Islam tidak pernah jadi masalah. Madzhab kami juga tidak pernah dipermasalahkan di dunia internasional, makanya ini aneh sekali,” katanya.

Pihaknya mengenal para penyerang ini merupakan suatu jemaah kelompok pengajian kecil yang setiap habis pengajian dilanjutkan dengan konvoi.

“Mereka menggunakan baju taqwa dan sarung. Sayangnya saat berkonvoi kali ini mereka sengaja melewati pondok kami sambil berteriak-teriak lalu menyerang,” kata Habib Ali.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa pukul 14.00 WIB ini, lanjut dia, merupakan penyerangan yang kedua kalinya setelah tahun 2007. Namun sepanjang 2007 hingga 2011 ada beberapa kali letupan seperti pelemparan batu ke arah pesantren.

“Mereka bukan NU (Nahdlatul Ulama) ataupun Muhammadiyah. Karena ormas-ormas Islam besar ini sudah menampik. Polisi terus menyelidiki,” katanya sambil manambahkan bahwa penyerang juga bukan dari FPI (Front Pembela Islam).

Ali berharap massa penyerang tidak lagi melakukan kekerasan terhadap Yapi dan lebih mengedepankan dialog, karena tindakan kekerasan tidak pernah memecahkan masalah.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur Irjen Pol Badrodin Haiti menyatakan, tiga pelaku penyerangan santri Yapi di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Pasuruan, sudah ditangkap.

“Pelakunya tiga orang dan sudah ditetapkan sebagai tersangka,” katanya saat mengunjungi kompleks Yapi, Pasuruan, Selasa sore.

Insiden penyerangan di pondok pesantren yang berlokasi di pinggir Jalan Raya Bangil-Pandaan itu mengakibatkan empat santri mengalami luka serius pada bagian kepala.

Korban lainnya yang sama-sama mengalami luka serius pada bagian kepala adalah dua orang penjaga Yapi. antara

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…