Sabtu, 12 Februari 2011 17:02 WIB Internasional Share :

Tentara-Pemberontak bentrok di Sudan Selatan, 105 tewas

Sudan (Espos) – Belum selang satu minggu referendum memutuskan kemerdekaan Sudan Selatan atas Sudan Utara, pertempuran bersenjata kembali terjadi di negara termuda ini. Baku tembak antara tentara pemberontak dengan polisi keamanan Sudan Selatan yang terjadi selama dua hari menewaskan 105 orang dari kedua kubu.

Dilansir dari laman Associated Press, Jumat (11/2), Jubir Kemiliteran Sudan Selatan, Philip Aguer mengatakan pertempuran terjadi di kota Fangak dan Dor sejak Rabu dan terus berlangsung hingga Kamis. Ketika militer mengambil alih pada Jumat, situasi sudah relatif tenang.

Agueer mengatakan 105 orang yang tewas dari dua kota itu terdiri dari 39 warga sipil, 24 polisi Sudan Selatan, dan 42 pemberontak. Sedang korban luka-luka yang mencapai jumlah sedikitnya 50 orang kini tengah mendapatkan perawatan oleh kelompok Medecins Sans Frontieres.

“Kebanyakan pasien mengalami luka tembak, beberapa luka di perut dan lambung,” ujar Tim Baerwaldt, Kepala Medecins Sans Frontieres misi Timur Tengah.

George Athor adalah pemimpin militer yang membelot untuk mencalonkan diri menjadi gubernur di negara bagian Jonglei, daerah terbesar di Sudan Selatan. Setelah kalah pada pemilihan April tahun lalu, Athor bersama dengan para pengikutnya melancarkan serangan bersenjata kepada pemerintahan Sudan Selatan. Pemberontakan Athor adalah duri dalam daging bagi pembentukan negara baru Sudan Selatan yang diputuskan pada hasil referendum Senin, 7 Februari 2011.

September tahun lalu, Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, menawarkan amnesti bagi Athor dan beberapa orang anggotanya yang sebelumnya memberontak. Pada 5 Januari 2011, empat hari sebelum referendum, Athor menandatangani perjanjian gencatan senjata yang awalnya diharapkan dapat menghentikan kekerasan di daerah itu. Sampai saat ini, tidak diketahui alasan penyerangan kelompok Athor kepada warga.

“Kami tengah menyiapkan perdamaian dan kami tidak tahu kenapa dia melakukan perang di saat perang telah berakhir di Sudan. Sementara itu kami masih dengan semangat rekonsiliasi karena tawaran amnesti kepada Athor masih berlaku. Jadi jika Athor ingin menghentikan perang, kami akan menyambutnya,” ujar Aguer.

VIVAnews/try

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…