Sabtu, 12 Februari 2011 03:29 WIB Solo Share :

Pengelolaan Radya Pustaka karut marut !

Solo (Espos)--Kalangan budayawan dan seniman Kota Bengawan mendorong perlunya pembenahan besar-besaran pengelolaan Museum Radya Pustaka menyusul mencuatnya kembali dugaan pencurian/pemalsuan koleksi museum.

Mereka juga mengajak wong Solo lebih handarbeni merasa memiliki, menjaga dan mau mempelajari nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam koleksi Radya pustaka. Jangan hanya merasa kebakaran jenggot saat tahu warisan budaya hilang atau dicuri. Lebih kurang demikian benang merah diskusi dan gerakan moral penuntasan kasus dugaan pemalsuan wayang koleksi Museum Radya Pustaka, Jumat (11/2) di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Jl Ir Sutami Solo.

Diskusi diprakarsai Komunitas Rangga Winter dan Komite Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN). Presidium KPCBN, Ardus M Sawega menilai pengelolaan Museum Radya Pustaka saat ini karut marut. Dia mengajak masyarakat Solo tidak terpaku pada upaya pengembalian benda-benda cagar budaya yang hilang. “Kesadaran bersama tentang sejarah kita sangat lemah. Tidak ada kesadaran masyarakat bahwa wayang atau benda warisan budaya lain adalah milik bersama. Selama ini kita abaikan sejarah. Pertanyaan saya, apa yang akan kita lakukan kemudian bila benda-benda budaya itu kembali,” paparnya.

Ardus M Sawega berharap forum kepedulian pencinta budaya yang dimulai dengan forum diskusi itu bisa menggelinding ibarat bola salju. Semakin besar dari waktu ke waktu dengan melibatkan elemen-elemen Kota Solo. Sehingga posisi atau keberadaannya begitu powerfull untuk mendorong lahirnya perombakan besar manajemen atau pengelolaan budaya. Apalagi di Solo yang dibranding sebagai Kota Budaya. “Sebab saya terlanjut skeptis dengan yang namanya intansi pemerintah. Apa yang mereka lakukan selalu mak plekentis dari apa yang sebenarnya disuarakan,” tegas dia.

Pendapat senada disampaikan Bambang Irawan, dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta. Dia mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Solo merombak Museum Radya Pustaka menjadi Museum Solo yang terus berkembang termasuk dalam jumlah dan koleksinya. Museum harus mau menerima sumbangan koleksi-koleksi benda cagar budaya yang saat ini masih dipegang masyarakat. Pengelolaan museum juga harus memasukkan unsur edukasi bukan semata museum ibarat warung makan saja.

Bambang menyayangkan tidak profesional/jeleknya pengelola Museum Radya Pustaka. Sebagai contoh acara memandikan Pusaka Rajamala. Lebih lanjut dia menilai Solo masih dalam tahap proses menjadi Kota Budaya. Tidak sedikit bangunan atau kawasan cagar budaya yang terabaikan begitu saja.

“Di sisi lain saya prihatin saat ini orang luar negeri tidak perlu datang ke tempat kita untuk tahu bagaimana kebudayaan kita. Sedangkan sampai saat ini belum ada buku sejarah Kota Solo yang merangkum banyak aspek kehidupan kita,” pungkas dia.

Dalang Wayang Kampung Sebelah, Jlitheng Suparman mengajak seluruh masyarakat aktif mengawal penuntasan kasus dugaan pemalsuan wayang koleksi Radya Pustaka. Sebab peninggalan Pakubuwono X itu merupakan warisan penting yang mengandung sejarah/peradaban (identitas-red) wong Solo. Selain itu wayang merupakan aset ilmu pengetahuan yang notabene milik masyarakat dunia.

“Saya yakin 100 persen 80 persen wayang di Radya Pustaka saat ini adalah wayang sampah yang tidak memenuhi standar keraton. Telah terjadi anarkhisme besar-besaran budaya dan ilmu pengetahuan. Revolusi budaya atau slogan spirit of Java merupakan kebohongan,” tegas dia.

kur

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…