Jumat, 11 Februari 2011 09:54 WIB Internasional Share :

Militer tetap setia pada Mubarak, tak ada perubahan besar di Mesir

Jakarta (Espos) – Militer Mesir menyatakan akan mendukung tuntutan demonstran. Namun militer tidak mengambil alih kekuasaan Presiden Hosni Mubarak. Hal ini mengindikasikan militer tetap setia pada Mubarak.

Artinya Mubarak yang kukuh bertahan di kursi presiden berkesempatan besar merealisasikan keinginannya untuk tetap menjadi presiden hingga September 2011. Dengan demikian, perubahan besar di Mesir sepertinya tidak akan terjadi.

“Revolusi sia-sia juga tidak. Apa yang terjadi sekarang menunjukkan kalau Mesir itu adalah negara yang sangat penting, bukan saja di antara negara Arab tapi juga geostrategi negeri-negeri besar,” kata pengamat hubungan internasional, Hariyadi Wirawan, Jumat (11/2).

Menurut Hariyadi, tarik ulur tengah terjadi di Mesir. Dia yakin, di balik kamera terjadi pembicaraan-pembicaraan tingkat tinggi antara berbagai pihak di Mesir. Pihak-pihak itu yakni pemerintah Mesir termasuk militer di dalamnya, kalangan oposisi dan AS.

“AS akan berusaha keras prinsip demokrasi bisa dihormati. Mubarak mundur itu pasti, tinggal kapan lalu what next, what to be done,” sambung staf pengajar dari UI ini.

AS berkeinginan, Mesir tidak boleh jatuh ke kalangan yang keras terhadap mereka. Mereka juga berharap, pemimpin Mesir selanjutnya tetap mendukung kebijakan pemerintahan sebelumnya terkait skenario keamanan di kawasan Timur Tengah.

“Mengingat Mesir telah meyepakati perdamaian dengan Israel. AS dan Israel berharap kesepakatan tidak akan berubah. Dengan dua skenario itu dipikirkan siapa yang paling tepat menggantikan Mubarak,” tuturnya.

AS tidak ingin revolusi yang terjadi di Mesir berakhir seperti di Iran. Iran ketika di bawah Syah Reza Pahlevi merupakan sekutu strategis di Timur Tengah. Namun setelah revolusi terjadi dan Ayatullah Khomeini memegang kendali, sikap Iran kepada Barat berubah.

“AS tidak mau apa yang terjadi di Iran terjadi juga di Mesir. As tampaknya ingin mengulur waktu dengan keberadaan (wapres) Omar Suleiman. Saya rasa Suleiman diminta untuk memastikan oposisi yang ikut pemilu adalah yang setuju demokrasi ala mereka,” jelas pria yang pernah belajar di Universitas Jawaharlal Nehru, India, ini.

Hariyadi menambahkan, AS dan Mesir menengarai, Iran berada di balik tuntutan rakyat Mesir agar Mubarak mundur. “AS juga takut kendati Mesir tidak akan menjadi Republik Islam seperti Iran, namun akan seperti Turki yang tadinya pro Israel namun tidak lagi dekat dengan Israel,” ucapnya.

Dalam pidato resminya semalam, Mubarak menyatakan tetap akan bertahan sampai dengan September 2011 dan berjanji tidak akan maju dalam pemilihan umum berikutnya. Dalam pidatonya juga Mubarak menyerahkan sebagian kekuasaan kepada Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman. Dia juga berjanji menginvestigasi kematian demonstran.

Sebelumnya, beredar spekulasi kemunduran Mubarak setelah militer menyatakan memberikan dukungan untuk warga Mesir. Kemungkinan mundurnya Mubarak diperkuat pertemuan Mubarak dan Suleiman.

dtc/try

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…