Jumat, 11 Februari 2011 11:36 WIB News Share :

Marzuki
Seruan revolusi DPR khianati demokrasi

Jakarta (Espos) – Sejumlah politisi yang tergabung dalam Deklarasi Penyelamat Negara (Depan) menyerukan revolusi di Gedung DPR. Wakil Ketua Dewan Pembina PD, Marzuki Alie, menegaskan seruan meminta Presiden SBY turun ini mengkhianati semangat demokrasi.

“Kalau namanya politisi mau revolusi apa nggak salah, artinya sudah mengkhianati demokrasi,” tegas Marzuki saat dihubungi wartawan, Jumat (11/2), menanggapi seruan revolusi yang disampaikan sejumlah politisi dalam Deklarasi Penyelamat Negara (Depan) di Gedung Nusantara III DPR, Senayan, Jakarta.

Marzuki mengajak semua politisi Tanah Air berfikir jernih dan tak hanya memikirkan kepentingan sendiri. Jika bernafsu terhadap kekuasaan, Marzuki mengajak politisi bersaing kembali di Pemilu 2014.

“Sabarlah sedikit, Pemilu 2014 kita berkompetisi lagi,” tantangnya.

Sebelumnya sejumlah politisi senior menyerukan deklarasi penyelamat negara di Gedung DPR. Sejumlah politisi senior seperti Permadi meneriakkan semangat revolusi.

“Menurut saya, untuk meningkatkan harkat bangsa Indonesia kita harus rebut kedaulatan kembali. Revolusi!” teriak Permadi sambil mengepalkan tangan dalam Deklarasi Penyelamat Negara (Depan) di area Gedung Nusantara III DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (10/2).

Menurutnya, banyak bupati dan gubernur di Indonesia yang korup. Tidak hanya itu, ribuan anggota DPRD di tingkat I dan II juga diyakininya korup. Anggota DPR dan DPD banyak yang tidak punya legitimasi untuk menjadi wakil rakyat karena korupsi.

“Menteri, presiden korupsi. Polisi, jaksa korupsi. Pajak, Imigrasi apalagi. Semua korupsi,” sambung Permadi yang disambut tepuk tangan puluhan orang yang datang dalam deklarasi.

Permasalahan bangsa dirasanya kian kompleks lantaran asing sudah menguasai dan menjadi tuan rumah di Indonesia. Dia menuturkan, baru saja dirinya menerima SMS yang mengabarkan ada ibu rumah tangga yang menggantung diri dan membunuh anaknya karena tidak bisa memberi makan. Hal itu membuatnya sangat prihatin.

“Di Mesir telah terjadi revolusi rakyat. Masak Indonesia tidak berani melakukan evolusi,” ucapnya lantang.

dtc/try

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…