Kamis, 10 Februari 2011 21:46 WIB Sragen Share :

Zat kapur tinggi, warga Pengkol beli air bersih

Sragen (Espos)--Warga Desa Pengkol, Kecamatan Tanon, sulit mendapatkan air bersih, karena air di daerah setempat mangandung zat kapur. Warga harus membeli untuk memenuhi kebutuhan air mereka.

Menurut Sulastri, 55, warga Pengkol RT 11, Desa Pengkol, Kecamatan Tanon, saat ditemui Espos di rumahnya, Rabu (9/2), mengaku kesulitan mendapatan air bersih tanpa harus membeli. Pasalnya, air dari sumurnya yang dahulu dapat dikonsumsi, saat ini tidak dapat dikonsumsi lantaran keruh. Ia khawatir akan berefek buruk bagi kesehatan apabila nekat mengonsumsi air itu.

Kondisi tersebut memaksanya harus menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli air bersih. Paling tidak ia harus membeli air sebanyak empat jeriken berukuran 30 liter setiap tiga hari sekali dengan harga Rp 3.000/ jeriken. Hal itu secara otomatis mengharuskan keluarganya menyiapkan uang lebih dari hari biasanya. Terlebih, ia juga menggunakan air itu untuk kepentingan warung makannya.

“Air yang saya beli hanya untuk keperluan konsumsi. Sedangkan untuk mandi dan sebagainya kami nekat memakai air keruh itu,” terangnya.

Ia lebih lanjut menyampaikan, sebenarnya ia mengetahui air sumurnya mengandung zat kapur sudah bertahun-tahun. Karena kandungan kapur di dalam air belum tinggi, ia masih dapat menggunakan air itu untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, sejak dua bulan terakhir ia merasakan kanduangan zat kapur semakin tinggi. Air sumurnya semakin keruh dari ke hari. Sejak saat itulah ia memutuskan untuk membeli air.

Menurutnya, air keruh itu tidak dapat dibersihkan dengan cara manual saja, yakni dengan pengendapan. Pasalnya, ia pernah mencoba mengendapkan air keruh dari sumurnya selama lima hari. Namun airnya tetap keruh. “Tidak hanya di sini, air sumur di tetangga sebelah juga sama. Airnya keruh,” imbuhnya. Ia berharap ada penanganan dari pihak terkait agar masalah kelangkaan air bersih itu cepat teratasi.

Senada diungkapkan warga lain. Kudami, 70, warga Pengkol RT 10, mengatakan air sumur miliknya memang terlihat bening. Namun, apa bila didiamkan beberapa jam, zat kapur akan tampak mengendap berwarna putih. Kendati mengetahui air sumurnya mengandung zat kapur, ia mengaku tidak khawatir, karena air itu masih dapat dikonsumsi meskipun harus diendapkan terlebih dahulu selama satu hari.

Menurutnya, kandungan zat kapur di setiap tempat di daerah itu berbeda. Jika di Pengkol RT 11 banyak warga yang membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan air mereka, tidak demikian halnya di Pengkol RT 10. Warga di lokasi itu masih dapat mengonsumsi air sumur mereka masing-masing dengan hanya mengendapkan zat kapur terlebih dahulu. “Beruntung saya tidak harus membeli air. Kasihan itu tetangga di RT lain, mereka harus membeli air,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Pengkol, Haryono, saat berusaha dimintai konfirmasi melalui telepon, baik dengan sambungan langsung maupun pesan singkat (SMS), pihaknya tidak menjawab dan membalas.

m93

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…