Kamis, 10 Februari 2011 16:24 WIB Sragen Share :

Mayat korban kecelakaan tunggal ditemukan membusuk di parit

Sragen (Espos)--Misteri kecelakaan tunggal di jalan penghubungkan Kecamatan Sambirejo-Gondang, Sragen pada Selasa (8/2) malam akhirnya terkuak dengan penemuan mayat laki-laki di saluran irigasi, tepatnya di Dukuh Gedangan, Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen, Kamis (10/2) sekitar pukul 10.00 WIB.

Korban belakangan diketahui bernama Wisnu Saputra, 23, pemuda asal Taraman RT 3, Sidoharjo, Sragen. Semula Polsek Sambirejo menemukan sebuah motor Yamaha Vega R warna silver metalik Nopol AD 5728 JH di areal persawahan di bawah talut jalan sedalam dua meter pada Rabu (9/2) pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Aparat dan warga sempat mencari siapa gerangan yang kecelakaan sampai motornya jatuh ke sawah.

Kondisi motor tidak banyak yang rusak, hanya kaca lampu depat pecah dan bagian pantat motor remuk. Warga dan aparat juga mencari di sekitar saluran irigasi yang cukup dalam dengan menggunakan kayu.

Namun pencarian warga dan aparat nihil hasilnya. “Sekitar pukul 10.30 WIB, kami mendapat laporan dari warga tentang adanya seorang petani yang menemukan mayat mengapung. Petani yang bernama Sugi itu menemukan mayat saat membajak sawah. Kami segera ke lokasi kejadian untuk memastikan apakah mayat itu korban kecelakaan tunggal yang dicari-cari.

Ternyata benar, lokasi ditemukannya mayat tak jauh dari lokasi ditemukannya motor korban. Hanya berjarak sekitar tiga meter,” tandas Kapolsek Sambirejo AKP Haryanto mewakili Kapolres Sragen AKBP IB Putra Narendra saat dijumpai wartawan di tempat kejadian perkara (TKP).

Aparat segera mengidentifikasi korban dan mengevakuasi korban ke daratan dengan bantuan Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Tim SAR Himalawu Sragen. Tim identifikasi datang untuk sekitar pukul 11.00 WIB untuk pemeriksaan sementara. Mayat akhirnya dibawa ke RSUD Sragen untuk dilakukan visum lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.

“Kecelakaan itu terjadi karena korban tidak mengetahui medan di daerah ini. Kemungkinan korban melaju dengan kencang dan sesampai di tingkungan tidak faham jalan hingga akhirnya terperosok ke sawah. Kami sudah melakukan olah TKP terkait dengan kecelakaan itu,” tambah AKP Haryanto.

Sementara itu Wagiyo, 50, orangtua korban langsung syok mendengar anaknya meninggal dunia sesampainya di Polsek Sambirejo. Wagiyo diantar tetangganya Jumadi, 45, ke Kantor Polsek Sambirejo untuk memastikan kabar kecelakaan yang merenggut nyawa anaknya.

“Kok kowe isoh kaya ngono ta le…le,” kesah Wagiyo dalam bahasa Jawa seraya lemas tak berdaya dan mengerang mengeluarkan air mata. Dia menangisi kematian anaknya.

“Anak itu berangkat main ke rumah teman dengan meminta uang Rp 100.000. Namun sudah dua hari ini kok tidak pulang. Baru tadi sekitar pukul 11.00 WIB, mendengar kabar kecelakaan. Makanya saya kemari. Saya minta jenazahnya langsung dibawa pulang,” imbuhnya.

trh

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…