Kamis, 10 Februari 2011 13:05 WIB Wonogiri Share :

50 Bencana dalam sebulan, kerugian Rp 1,3 M

Wonogiri (Espos)--Cuaca ekstrem di Wonogiri telah menyebabkan sedikitnya 50 kejadian bencana alam dalam kurun waktu 1-31 Januari 2011. Ratusan rumah dan sejumlah fasilitas umum rusak akibat bencana itu. Perkiraan nilai kerugian materi mencapai Rp 1,3 miliar.

Jumlah kejadian bencana tersebut hampir seperempat jumlah total kejadian bencana sepanjang 2010 yang mencapai 206 kejadian atau rata-rata 17 kejadian per bulan. Data yang diperoleh Espos dari Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas), bencana alam yang terjadi selama bulan Januari itu berupa tanah longsor, hujan deras, angin ribut, dan banjir. Sedangkan dilihat dari wilayah terjadinya bencana, sebagian besar terjadi di bagian utara, timur dan tenggara Wonogiri.

Paling banyak terjadi di Kismantoro dan Tirtomoyo, masing-masing sebanyak tujuh kejadian, Puhpelem, Jatipurno, Slogohimo, dan Manyaran masing-masing empat kejadian.Lainnya, seperti Nguntoronadi, Selogiri, Karangtengah, Jatisrono, Jatiroto, Selogiri dan Purwantoro, masing-masing antara 1-3 kejadian. Sedangkan daerah-daerah wilayah selatan seperti Paranggupito, Giriwoyo, maupun Giritontro, tidak laporan kejadian.

Kasi Perlindungan Masyarakat (Linmas) Badan Kesbangpol dan Linmas, Suraji menduga hal itu terjadi karena struktur tanah di wilayah selatan yang keras berbatu sehingga tidak mudah longsor. “Kalau dilihat struktur tanahnya, wilayah utara, timur dan tenggara berupa tanah merah yang lebih gembur sehingga mudah longsor jika tergerus air,” katanya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (10/2).

Suraji menambahkan beberapa hari belakangan laporan kejadian bencana itu sudah agak berkurang. Kendati demikian, warga di seluruh wilayah Wonogiri diimbau tetap hati-hati dan waspada.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Wonogiri, Suharno mengungkapkan sejak awal hingga pertengahan Januari, pihaknya mencatat ada 183 rumah yang rusak akibat berbagai kejadian bencana seperti tanah longsor maupun hujan disertai angin kencang. Angka kerusakan tersebut diakui Suharno cukup tinggi.

“Itu belum ditambah jumlah kerusakan sejak pertengahan Januari hingga Februari ini. Hampir setiap hari dalam kurun waktu itu ada 2-3 rumah yang dilaporkan rusak karena bencana. Sementara dana untuk bantuan logistik bencana itu pada APBD 2011 ini hanya Rp 200 juta,” jelas Suharno, kemarin.

Pada bagian lain, berdasarkan pembahasan terakhir sebelum penetapan APBD 2011 hasil evaluasi Gubernur, dana yang dialokasikan sebagai biaya tak tersangka (BTT) nilainya Rp 1,3 miliar. Dana ini untuk membiayai perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana.

Mantan Ketua Komisi C yang kini duduk sebagai anggota Komisi A DPRD Wonogiri, Catur Winarko berpendapat dana tersebut sangat minim dibandingkan kebutuhan. Dia memperkirakan total kebutuhan untuk perbaikan infrastruktur yang rusak tersebut secara akumulatif mencapai lebih dari Rp 10 miliar.

shs

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…