Rabu, 9 Februari 2011 17:32 WIB Wonogiri Share :

Harga gabah turun di bawah HPP, petani resah

Wonogiri (Espos)--Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani wilayah Selogiri, Wonogiri selama dua pekan terakhir turun menjadi hanya Rp 2.300-Rp 2.400/kg atau di bawah harga pokok pembelian (HPP) pemerintah senilai Rp 2.640/kg. Akhir Januari 2011 lalu, GKP masih berkisar Rp 2.800-Rp 3.100/kg.

Beberapa sumber menyebut penurunan harga itu karena serbuan beras impor. Namun ada pula yang menyebut faktor cuaca yang selalu basah sehingga membuat gabah  tidak bisa kering sempurna, kandungan air serta kotorannya tinggi dan harganya pun turun.

Apapun penyebabnya, penurunan harga ini membuat petani yang sebentar lagi panen resah. Mereka terancam merugi, apalagi biaya produksi belakangan ini semakin tinggi karena banyaknya hama.

Petani asal Desa Pule, Selogiri, Ny Ngadiyo mengaku tidak berani berharap banyak pada hasil panen kali ini. Selain karena ancaman gagal panen yang disebabkan serangan wereng, juga karena harga GKP yang turun hingga di bawah HPP.

“Sawah saya panen sebentar lagi, tapi saya agak khawatir. Banyak sawah lain gagal panen karena wereng. Kalaupun bisa panen, harga gabah juga anjlok. Saat ini harga gabah cuma Rp 2.300-Rp 2.400/kg, padahal sebelumnya bisa sampai Rp 2.800/kg bahkan Rp 3.100/kg,” katanya, saat ditemui <I>Espos<I> di rumahnya, Rabu (9/2).

Tak hanya harga GKP yang turun. Petani yang juga mantan Kepala Desa Pule, Mulyadi mengungkapkan harga beras di tingkat penggilingan selama dua pekan terakhir juga turun lebih dari Rp 1.000/kg. Mulyadi yang juga menjalankan usaha penggilingan padi itu mengatakan dua pekan lalu ia masih bisa menjual beras Rp 6.600/kg. Tapi saat ini harga tersebut sudah turun menjadi Rp 5.200-Rp 5.300/kg.

“Saat ini dengan kemajuan di bidang infrastruktur, banyak beras dari luar daerah masuk ke Wonogiri. Ini sedikit banyak berpengaruh terhadap harga. Belum lagi hasil panen setahun ini juga tidak bisa dibilang berhasil,” katanya, saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Terpisah, Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Selogiri, Marija mengakui harga GKP dua pekan terakhir memang turun di bawah HPP. Namun, dia mengaku belum mendapat informasi mengenai penurunan harga beras di tingkat penggilingan.

Turunnya GKP tersebut, kata Marija, benar-benar telah menambah berat beban petani di wilayah Selogiri yang masih belum juga lepas dari masalah wereng. “Saat ini masih ada 906 ha lahan yang terancam wereng, 46 ha sudah terserang berat, 80 ha terserang sedang, dan 219 terserang ringan,” jelas Marija.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sutardi mengungkapkan turunnya harga gabah dan beras salah satu faktornya karena beras impor. “Meskipun beras impor tidak masuk ke Wonogiri, tapi imbasnya ke harga gabah dan beras tetap terasa sampai ke petani di sini,” katanya.

shs

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…