Pengamat
Ketakutan taksi Bandara Adisumarmo tersingkir, berlebihan

5pool2

Solo (Espos) -- Desakan Kementrian Perhubungan agar <I>Batik Solo Trans</I> (BST) beroperasi di Bandara Adi Seomarmo menuai tanggapan positif dari banyak kalangan.

Pengamat transportasi UNS Solo, Syafii menilai sudah semestinya moda transportasi selain taksi masuk bandara. Syafii pun mengomentari masalah klasik di Bandara Adi Soemarmo terkait ketakutan taksi tersaingi sebagai sikap yang berlebihan.

Menurutnya, pengelola taksi seharusnya tak perlu takut akan tersaingi atau tersingkir. Sebab semakin variatif moda transortasi yang disediakan di sebuah kawasan, semakin besar pula peluang kawasan itu untuk menarik masyarakat. Pada akhirnya, taksi juga akan meraup keuntungan.

“Kita menyadari itu masuk kepentingan pengelola taksi. Tapi ketakutan seperti itu saya kira berlebihan. Justru makin banyak armada masuk, bandara makin ramai. Taksi juga akan diuntungkan,” jelas Syafii, kepada wartawan, Selasa (8/2).

D isamping itu, dia melanjutkan, pemerintah perlu menjamin terpenuhinya hak masyarakat untuk memilih moda transportasi yang sesuai kondisi masyarakat bersangkutan. Praktik semacam monopoli yang saat ini terjadi di Bandara Adi Soemarmo, menurutnya, perlu segera dikoreksi. Jika tidak bandara bakal sulit berkembang, lantaran calon penumpang memilih lari ke Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.

Syafii menguraikan, secara teori warga yang hendak melakukan perjalanan akan memilih jalur yang paling sedikit menghabiskan biaya. Dengan dipangkasnya biaya taksi yang terbilang mahal, antara Rp 40.000-Rp 50.000/perjalanan dan diganti BST yang hanya Rp 3.000/perjalanan, otomatis total biaya perjalanan menjadi lebih kecil.

Apabila hasil perhitungan itu dibanding perjalanan udara melalui bandara lain lebih murah, maka masyarakat pasti lebih tertarik terbang dari Bandara Adi Soemarmo.

Lebih lanjut, dia menyebut kondisi bandara saat ini ironis, di tengah kenyataan bahwa bandara ini menjadi salah satu terminal tenaga kerja Indonesia (TKI). Ditambah dengan berbagai fasilitas yang dimiliki, menurutnya, sudah saatnya Bandara Adi Soemarmo dibuka lebar untuk menerima seluruh moda transportasi, termasuk kereta api.

“Memang untuk kereta api masih jangka panjang karena saat ini infrastrukturnya belum tersedia. Tapi, BST masuk bandara, saya kira paling tepat untuk segera direalisasikan,” tandas dia.

Dukungan agar BST melayani perjalanan dari dan ke bandara disampaikan pula kalangan masyarakat umum. Warga Sawit, Boyolali, Safitri, mendukung masuknya BST ke bandara. Selama ini, dia mengaku memilih jasa penerbangan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta karena kesulitan mengakses moda transportasi ke Bandara Adi Soemarmo. Safitri “Saya pilih ke Jogja karena lebih mudah, bisa naik bus atau kereta api. Kalau di Solo, tarif taksi mahal, sampai Rp 50.000. Beda kalau ada BST tentu bisa lebih murah,” ujar Safitri. <B>tsa</B>

Editor: | dalam: Ekonomi |

Berita Terkait

Menarik Juga »