Selasa, 8 Februari 2011 21:30 WIB Boyolali Share :

Korban bus masuk jurang di Temanggung
Fitri bercita-cita ingin kuliah....

Almarhum Fitri. Foto Repro: Aries Susanto

Di tepi jalan yang lengang itu, sebuah bendera putih tertancap. Kabar duka datang bersamaan dengan melajunya mobil ambulans ke Dusun Kiran, Desa Tambakan, Desa Jogonalan, Klaten, Selasa (7/2) pagi.

Isak tangis pun pecah mengiringi turunnya jenazah dari mobil ambulans itu. “Anak saya pergi tak meninggalkan pesan apa-apa, selain cita-cita ingin kuliah,” kata Tuwuh Raharjo dengan muka sembab.

Tuwuh adalah ayah dari Fitri Retnaningsih, salah satu korban kecelakaan maut di Dusun Kalitelon, Desa Pingit, Kecamatan Pringsurat, Temanggung, Senin (6/2) malam. Rasa cinta Tuwuh kepada Fitri sungguh tak terukur. Sebab, gadis berusia 21 tahun itu adalah anak perempuan Tuwuh satu-satunya dari ketiga bersaudara. “Dia paling dekat dengan orangtua. Karena, kedua kakaknya kerja di luar pulau Jawa semua,” sahut saudara Tuwuh, Muhadi.

Jauh hari, sebelum Fitri pulang ke negeri keabadian dalam tragedi maut, lulusan SMA Boyolali itu pernah menumpahkan isi hatinya untuk melanjutkan kuliah. Kedua orangtuanya, Tuwuh dan Hartini begitu gembira mendengar anaknya bercita-cita sekolah lebih tinggi. Sebab, setelah lulus SMA, Fitri hanya mengambil kursusan akuntansi di Jogja yang kemudian diterima bekerja di pegadaian Kabupaten Kebumen. “Setelah kerja, dia berulangkali bilang sama saya untuk kuliah. Saya senang mendengarnya,” kata Tuwuh yang setiap hari bekerja sebagai penyuluh pertanian di Pemkab Boyolali.

Cita-cita itulah barangkali yang membuat hati kedua orangtua Fitri begitu susah untuk menghapus kenangan indah bersama puteri kesayangannya itu. Ibunya, Hartini bahkan tak mampu berucap banyak begitu melihat anaknya pulang terbungkus kain kafan. Saat <I>Espos</I> menengoknya dari samping pintu kamar, air matanya masih bercucuran. “Ibunya masih <I>shock</I>, jadi belum bisa ditemui tamu,” kata Muhadi.

Muhadi tahu persis ketika detik-detik jasad keponakannya itu dijemput di rumah sakit (RS) Temanggung. Selasa (7/2) dini hari ketika jarum jam bergeser pukul 01.30 WIB, Muhadi tiba-tiba menerima sepotong pesan pendek dari nomer yang tak dikenalnya.

Pesan pendek itu ia simpan dengan perasaan tak tenang. Apalagi ketika orangtua Fitri berulangkali tanya kepadanya soal kabar terakhir anaknya. “Orangtuanya saat itu sudah gelisah. Sebab, sore harinya Fitri telpon bahwa masih dalam perjalanan di bus dari Semarang,” kisahnya.

Berangkat dari sepotong pesan pendek itulah, Muhadi memberanikan diri ke Temaggung malam itu juga. Ayah Fitri rupanya ingin ikut. “Namun, saya tak bilang soal isi SMS yang baru saya terima. Saya bilang bahwa Fitri masih dirawat di RS,” jelasnya.

Subuh ketika bedug ditabuh, Muhadi tiba di RS. Ia pun bergegas ke kamar mayat. Di situlah, ia saksikan jenasah keponakannya terbujur kaku. “Saya sebenarnya tak tega mau bilang bahwa anaknya telah meninggal. Sebab, saya tahu persis orangtua Fitri pasti <I>shock</I>,” terangnya.

Kini, Fitri telah pergi dengan meninggalkan cita-cita mulia untuk belajar. Ayah-ibunya hanya bisa pasrah mengantar anak bungsunya itu kembali ke pangkuan Ilahi…  (Aries Susanto)

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…