Selasa, 8 Februari 2011 23:16 WIB Boyolali Share :

Harga kedelai melambung, pengrajin tahu Boyolali resah

Boyolali (Espos)– Sejumlah pengrajin tahu di Desa Bendan, Banyudono, Boyolali resah. Pasalnya, harga kedelai naik dalam satu bulan ini. Kenaikan harga kedelai juga dibarengi dengan kenaikan harga minyak goreng, sehingga proses produksi tahu berkurang.

Berdasarkan pantauan <I>Espos</I>, para pengrajin tahu merasa tertekan dengan kenaikan harga kedelai dan minyak goreng tersebut.

“Saya sangat pusing dengan harga kedelai yang naik. Awalnya, saya bisa membeli kedelai per kilo hanya Rp 4.800, sedangkan harga kedelai per kilo sekarang mencapai Rp 6.550,” ujar pengrajin Tahu setempat, Wargono, saat ditemui <I>Espos</I> di rumahnya, Selasa (8/2).

Dia menambahkan, kenaikan harga bahan baku Tahu itu membuat proses produksinya berkurang hingga satu kuintal. Sementara para pedagang di pasar menolak kenaikan harga tahu. Pada akhirnya, para pengrajin Tahu hanya bisa bertahan untuk terus memroduksi tahu kendati dengan keuntungan yang sangat minim.

Kenaikan harga kedelai juga dikeluhkan pengrajin Tahu lain, Wartopo. Pekerjaan sebagai pengrajin tahu terpaksa ia lakoni dengan berat hati karena tidak mempunyai keterampilan lain. “Mau kerja apa, sudah lama saya menekuni pekerjaan ini. Yang saya lakukan hanya mengurangi proses produksi dalam sehari mencapai setengah kuintal. Harga minyak goreng dari Rp 10.000 sekarang menjadi Rp 11.500,” terangnya.

Wartopo mengharapkan pemerintah memerdulikan nasib pengrajin tahu dengan menurunkan harga Kedelai pada kondisi semula. Tidak hanya itu, kualitas Kedelai sekarang lebih buruk dibandingkan dengan kualitas sebelumnya.

Para pelanggannya, imbuhnya, tidak mau tahu dengan kenaikan harga Kedelai. Mereka tetap menginginkan harga tahu tidak naik.”Sekarang saya juga kesulitan mencari kayu bakar untuk proses pembuatan tahu,” tegasnya.

Ditemui terpisah, Ketua Pengrajin Tahu Sejahtera Desa Bendan, Parmadi, mengatakan kenaikan harga kedelai dan minyak goreng itu mengurangi keuntungan yang diperoleh para pengrajin tahu. “Sedikit sekali penghasilannya sekarang. Sangat <I>ngepres</I>, terkadang para pengrajin Tahu tidak mendapatkan keuntungan sama sekali,” katanya saat ditemui <I>Espos</I>, Selasa.

Dia mengkhawatirkan jika harga kedelai tak kunjung turun, maka diprediksikan puluhan pengrajin tahu di Desa Bendan akan gulung tikar. Sebagai ketua, ia menolak bantuan Kedelai bersubsidi dari pemerintah setempat. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kesenjangan antarpengrajin tahu. “Biasanya, bantuan itu disalahgunakan oleh oknum tertentu. Kami hanya mengharap ada kepedulian pemerintah menentukan harga kedelai. Jangan hanya menguntungkan petani kedelai saja,” harapnya. <B>m98</B>

lowongan pekerjaan
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…