Selasa, 8 Februari 2011 16:59 WIB Wonogiri Share :

Dituding tampar siswa, guru SMK di Wonogiri dilaporkan ke Polisi

Dias Ganang Fardian menunjukkan memar di bawah mata kirinya saat menjalani pemeriksaan di Mapolsek Wuryantoro. Foto/SOLOPOS/Suharsih

Wonogiri (Espos) — Guru SMK Gajah Mungkur 1 Wuryantoro, Wonogiri, berinisial M dilaporkan ke Polsek setempat karena dugaan penganiayaan terhadap salah seorang muridnya. Murid tersebut, Dias Ganang Fardian, 16, mengalami luka di bawah mata kirinya setelah dipukul guru olahraga itu seusai upacara bendera, Senin (7/2) pagi.

Didampingi ayahnya, Edy Puspito Hardiyanto, Selasa (8/2) pagi, Dias yang masih duduk di Kelas X Jurusan Mekanik Otomotif (MO) itu datang ke Mapolsek Wuryantoro untuk menjalani pemeriksaan. Selama beberapa jam ia menjawab berbagai pertanyaan dari penyidik seputar peristiwa pemukulan terhadap dirinya.

Kepada wartawan, Edy mengungkapkan laporan resmi mengenai peristiwa itu sudah ia masukkan ke Polsek, Senin malam. Bahkan, saat menyampaikan laporan itu ada beberapa siswa yang ikut datang ke Mapolsek untuk memberi kesaksian.

“Saya melaporkan tindak kekerasan yang dialami anak saya. Kejadiannya, Senin pagi setelah upacara bendera. Katanya anak saya bercanda dengan temannya saat upacara berlangsung dan selesai upacara anak saya dipanggil oleh guru olahraganya. Anak saya lalu menghadap guru itu tapi belum sempat ditanya sudah langsung ditampar,” terang warga Dusun Salak RT 1/RW I Desa Tubokarto, Kecamatan Pracimantoro itu.

Sebagai bukti laporan itu, Edy mengatakan luka anaknya sudah divisum dua kali oleh dua dokter yang berbeda. Satu dokter di Wuryantoro dan satu dokter di Pracimantoro. Hasilnya, ada bekas luka akibat pemukulan di bawah mata kirinya.

“Kemarin mata kirinya sampai membiru dan matanya terus mengeluarkan air. Saya melaporkan kejadian ini dengan harapan ada efek jera bagi guru yang melakukan pemukulan itu,” tambahnya.

Upaya pembinaan

Ditemui terpisah, Kepala SMK Gajah Mungkur 1 Wuryantoro, Saryanto mengkonfirmasi adanya kejadian itu. Namun dia membantah hal itu sebagai tindakan penganiayaan, bahkan bukan pula pemukulan.

Menurut Saryanto, peristiwa hari Senin itu hanyalah upaya pembinaan karena si murid dinilai melanggar kedisiplinan. “Peraturan sekolah sudah jelas. Saat upacara bendera suasana harus khidmat. Tapi siswa ini malah ramai sendiri bercanda dengan temannya. Jadi ya kemudian dia dipanggil untuk diberi pembinaan,” jelas Saryanto, saat ditemui wartawan di kantornya, Selasa.

Lebih jauh, Saryanto mengaku sangat menyayangkan sikap orangtua siswa tersebut yang langsung melaporkan peristiwa itu ke polisi tanpa mengkonfirmasikan dulu ke pihak sekolah.

Sementara guru olahraga yang dituding telah melakukan pemukulan tersebut, M, kemarin tidak berada di sekolah karena sedang tugas dinas luar sekolah.<B>shs</B>

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…