Pengacara senior Adnan Buyung Nasution (Dok. Solopos.com) Pengacara senior Adnan Buyung Nasution (Dok. Solopos.com)
Selasa, 8 Februari 2011 21:10 WIB News Share :

Buyung khawatir perusahaan “pasien” Gayus diperas polisi

Adnan Buyung. Foto: Tribunnews.com

Jakarta (Espos) — Pengacara Gayus, Adnan Buyung Nasution resmi “bercerai” dengan mantan pegawai Ditjen Pajak itu. Buyung mencurigai tidak diusutnya asal uang Gayus Rp 28 miliar dan Rp 74,5 miliar karena ada kongkalikong.

“Saya khawatir itu jadi ajang pemerasan oleh polisi. Catat itu, bisa saja perusahaan-perusahaan itu diperas, dikompas. Bukan tambah baik negara ini jadinya,” terang Buyung di kantornya, Jakarta, Selasa (8/2).

Buyung menilai seharusnya soal perusahaan-perusahaan itu dibahas sidang kabinet. Jangan sampai kasus pajak menguap begitu saja.

Lebih lanjut Buyung menjelaskan, dia mencatat lebih kurang ada 148 data perusahaan yang terkait Gayus. Daftarnya sudah ada.

“Baru setelah kami serahkan ke KPK-lah polisi baru bicara. Iya enggak, selama ini diam saja polisi. Apa saja yang dikerjakan polisi?” terang Buyung yang resmi mundur menangani Gayus sejak 7 Februari lalu.

Buyung memilih tidak lagi menangani Gayus karena tidak setuju Gayus dipegang Hotma. Kenapa? “Ketidaksetujuan itu adalah sesuai dengan kode etik profesi advokat. Dokter juga begitu, kalau sudah satu pasien ditangani satu dokter, enggak boleh dokter lain campur tangan begitu tanpa ada persetujuan dokter yang bersangkutan,” kata Buyung.

Alasan lainnya, Gayus mengubah haluan soal mafia pajak dan mafia hukum.

“Gayus mengubah seluruh keterangannya yang pernah disampaikan kepada kami,” kata anggota tim pengacara Gayus, Indra Nathan.

Indra menilai setelah Gayus ditangani pengacara baru, sudah tidak ada lagi persamaan visi dan misi Buyung dengan Gayus untuk menuntaskan mafia hukum dan mafia pajak.

“Dengan ada perkembangan baru tersebut, menggunakan jasa hukum lain yang tidak kami setujui dan Gayus mengubah keterangannya yang pernah disampaikan kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Kepolisian dan tim <I>lawyer<I>,” tambah Buyung.

Dalam perkembangannya, kasus Gayus juga menjadi konsumsi politik sehingga semakin kecil praktik mafia hukum dan mafia pajak dibongkar.

“Ini soal hubungan kepercayaan dan <I>trust worthy<I>, kalau tidak ada lagi kepercayaan, tim <I>lawyer<I> tidak lagi melakukan penanganan perkara,” ujarnya.

Gayus kini ditangani Hotma Sitompoel. Gayus yang dahulu menyudutkan perusahaan Bakrie terkait pajak kini berbalik arah. Dia menuding nama Bakrie justru diarahkan Satgas. Bahkan langkah terbaru Gayus, meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) agar dilindungi dari Sekretaris dan anggota Satgas, Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa.

Sikap Gayus yang plin-plan, dahulu berani mati mengungkap kasusnya namun kini mengaku diarahkan pihak tertentu dinilainya sebagai sebuah <I>blunder<I>.

“Jadi kita kehilangan kepercayaan, mana lagi yang benar. Nah, ketidakpercayaan inilah yang menjadi dasar kami untuk tidak melanjutkan kerja sama kita dalam penanganan perkara kami,” tutup Buyung. dtc

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…