Senin, 7 Februari 2011 17:19 WIB Kolom Share :

Bandara, beda Solo dan Jogja

Suwarmin Wartawan SOLOPOS

Beberapa waktu lalu, saat mengikuti sebuah acara di Jakarta, saya terpaksa harus pulang ke Solo melalui rute penerbangan Jakarta-Jogja. Teman seperjalanan saya, seorang warga Australia, James, juga terpaksa melalui jalur Jakarta-Jogja, padahal dia akan menyelesaikan urusan bisnis di Solo. Akhirnya James tanpa banyak pikir melanjutkan perjalanan dengan naik taksi menuju Solo.

“Kawan saya bilang, ke Jogja dulu, baru ke Solo. Lebih mudah. Saya tak harus melihat jadwal penerbangan, ke Jogja setiap saat hampir selalu ada penerbangan. Ke Solo, belum tentu,” kata James, seorang pakar desain tekstil.

Begitulah. Publik sudah telanjur beranggapan jalur penerbangan menuju Jogja selalu lebih mudah. Ada apa dengan Solo? Apakah potensi dan pasar ekonomi Solo kalah seksi dibandingkan Jogja? Apakah Bandara Adi Soemarmo Solo kalah keren dibandingkan Bandara Adi Sutjipto Jogja?

Jawabannya, tidak. Setidaknya itu menurut pelaku bisnis di Kota Solo. General Manager Hotel Best Western Premier, Herman Courbois, misalnya, menuturkan Solo sebenarnya memiliki banyak potensi namun dibutuhkan kerja sama dari seluruh pihak terkait. Herman secara khusus menyoroti akses masuk Solo melalui Bandara Adi Soemarmo.

“Sangat disayangkan bandara sedemikian bagus hanya memiliki sembilan flight, tidak ada penerbangan ke Bali dan Makassar. Bandingkan dengan Jogja yang punya sekitar 39 flight dan punya rute ke timur,” kata Herman yang asal Belanda ini.

Solo bahkan menjadi salah satu titik pengembangan tol Trans Jawa yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Ya, Solo, bukan Jogja. Kelak, jika proyek tol Solo-Jakarta, Solo-Surabaya menjadi kenyataan, lalu lintas Solo akan kian padat. Jika akses ke bandara masih menjadi titik lemah seperti sekarang, tentu ini menjadi handicap tersendiri.

Kemudahan akses menuju bandara, itulah beda antara Solo dan Jogja. Bahkan orang Madiun atau Ngawi bisa dengan mudah naik pesawat melalui Bandara Adi Sutjipto karena ada akses jalur kereta api yang melintasi bandara. Pelancong dari dalam dan luar negeri begitu dimanjakan kemudahan transportasi dari Bandara Adi Sutjipto menuju pusat-pusat wisata seperti Malioboro, Keraton atau kawasan wisata lain. Bus Trans Jogja yang mampir di bandara dengan mudah akan mengantar penumpang menuju hampir semua titik di Jogja. Mudah dan murah.

Sebaliknya, banyak warga Solo dan sekitarnya harus rela mengantar atau menjemput keluarga mereka yang akan berangkat atau pulang bekerja di luar negeri melalui Bandara Adi Sutjipto.

Apa mau dikata. Sepertinya memang agak sulit untuk menjangkau Bandara Adi Soemarmo. Padahal bandara yang secara kewilayahan berada di daerah Kabupaten Boyolali itu sekarang makin besar, megah dan molek.

Secara teori, yang harus dilakukan tidak jauh-jauh dari upaya membuka akses seluas-luasnya dari dan ke Bandara melalui kebijakan menghilangkan proteksi, mendorong pertumbuhan dengan paket-paket insentif untuk pengelola moda transportasi.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo, Andri Iskandri, melalui SOLOPOS juga pernah mengatakan pihaknya selama ini membuka lebar peluang angkutan umum untuk masuk ke bandara. Hanya, menurut Andri, siapa pun yang masuk bandara, harus menyadari di bandara itu telah beroperasi 65 unit taksi yang dikelola Puskop AU Lanud Adi Soemarmo.

Kawan saya, Jeng Kenes punya pandangan menarik. Menurut dia, sebenarnya tak ada pihak yang dirugikan jika kelak Bandara Adi Soemarmo berkembang semakin ramai. Jumlah penumpang yang semakin banyak, akan terbagi ke masing-masing moda transportasi, sesuai dengan pasar masing-masing.

“Semua stake holder bandara, seperti PT Angkasa Pura, Puskop AU, pelaku bisnis dan pemerintah perlu duduk satu meja untuk mengatasi persoalan akses bandara ini. Ingat lho, ini supaya bandara makin mampu melayani warga Solo dan sekitarnya. Tidak sedikit-sedikit harus lewat Jogja,” kata Kenes.

Jeng Kenes juga melihat banyaknya rumah makan yang belakangan ini bermunculan di kawasan Jl Adisucipto dari Hotel Lorin hingga perempatan Colomadu, pertumbuhan bisnis di Kartasura dan sekitarnya, juga bukan hal yang kebetulan.

“Kalau bisnis di kawasan sekitar bandara tumbuh, akses ke bandara sudah menjadi keharusan. Jadi ada pertumbuhan usaha di kawasan jalur ke bandara juga didorong,” kata Kenes.

Semoga kelak Bandara Adi Sumarmo menjadi ikon penting kemajuan ekonomi dan social budaya warga Soloraya. Atau jika tidak dilakukan, lagi-lagi Bandara Adi Sutjipto yang kian padat karena di-supply dari Solo dan Bandara Adi Soemarmo akan semakin terkucil.

Suwarmin

Wartawan SOLOPOS

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…