Minggu, 6 Februari 2011 21:40 WIB Tak Berkategori Share :

Petani sayuran di Cepogo keluhkan munculnya hama janggel

Boyolali (Espos)–Sejumlah petani sayuran di lereng Merapi mulai mengeluhkan munculnya hama janggel. Hama yang mirip lintah dan bekicot, namun tidak bercangkang itu menyerang beberapa sayuran yang tengah tumbuh daun.

Salah seorang petani sayuran di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Wandi menuturkan munculnya janggel itu terjadi setelah hujan abu vulkanik dari Merapi beberapa waktu lalu. “Setelah abu vulkanik menutupi seluruh lahan pertanian sayuran warga, kemudian dilanjutkan dengan hujan deras, banyak janggel yang menyerang tanaman sayuran warga,” ujarnya kepada wartawan di lahannya, akhir pekan lalu.

Wandi menambahkan serangan hama janggel itu terjadi pada malam hari. Dalam menyerang, jelasnya, janggel bisa memakan habis daun sejumlah sayuran dalam sehari. “Bisa dibayangkan memiliki lahan sekitar 1.000 meter persegi, daun sayuran yang baru tumbuh sudah habis dalam satu setengah hari. Serangan itu hanya terjadi pada malam hari. Kalau siang janggel bersembunyi di batang pohon atau daun yang lembab,” tambah dia.

Menurut Wandi, selama ini para petani belum menggunakan sejumlah obat-obatan untuk membasmi hama tersebut. Para petani khawatir jika dibasmi dengan obat-obatan kimia, dikhawatirkan akan menganggu pertumbuhan sayuran itu sendiri. “Para petani biasanya memilih memunguti janggel itu jika masih menempel di daun,” tambah dia.

Sementara, Sekretaris Desa (Sekdes) Gedangan Waljuni menuturkan serangan hama janggel itu terjadi setelah abu vulkanik di lahan pertanian warga menghilang. Hama janggel itu menyerang tanaman sayuran seperti kol, sawi, cabe dan tomat.

Waljuni mengatakan serangan hama janggel itu telah mencapai puluhan hektare di Gedangan. Terpisah, staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo Arif Purwanto mengatakan pihaknya tengah berupaya melakukan penanganan hama janggel itu dengan metode organik. Menurut Arif, munculnya janggel itu disebabkan kelembaban lahan di atas normal, akibat pengaruh abu vulkanik Merapi.

fid

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…