Sabtu, 5 Februari 2011 22:26 WIB Sukoharjo Share :

Telepon berkali-kali, demi peroleh kabar sang buah hati...

Di Sabtu (5/2) sore, Gang Anggrek, Ngruki RT 5/RW XII, Cemani, Grogol, Sukoharjo tampak lengang. Kawasan yang berada di sebelah barat asrama putri Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki tersebut terlihat sepi dari keramaian. Rumah-rumah di gang tersebut mayoritas pintunya tertutup rapat. Begitu pula dengan rumah nomor 1 yang tidak lain merupakan kediaman orang tua Muhammad Zia’ulhaq, salah satu mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, ketika Espos mencoba mengetuk pintu kediaman orang tua Zia, senyum ramah dari para penghuni rumah itupun langsung menyambut hangat. Ibunda Zia, Nurhidayati, 49, serta ayah Zia, Ahmad Husnan,70, yang tengah duduk di ruang tamu buru-buru mempersilahkan masuk.

“Kemarin (Jumat), orang dari SOLOPOS ada yang hubungi Zia di Mesir ya?” tanya Nurhidayati membuka perbincangan sore itu.

Nurhidayati menceritakan, selama kondisi di Mesir masih mencekam, keluarganya yang berada di rumah selalu mencoba berkomunikasi dengan Zia. Dalam sehari, Nurhidayati dan keluarganya bisa berkomunikasi dengan Zia hingga dua atau tiga kali. Komunikasi itu dilakukan melalui pesawat telepon ataupun chating lewat internet.

“Kalau dari sini telepon ke sana (Mesir-red) itu bisa. Tapi kalau dia yang di Mesir mau telepon ke sini katanya susah dan enggak bisa,” papar Nurhidayati.

Untuk itulah, keluarga Zia di Sukoharjo selalu sedia pulsa telepon paling tidak Rp 30.000 per hari. Begitu komunikasi bisa terjalin, pihak keluarga langsung menanyakan keadaan Zia yang tinggal di asrama mahasiswa.

“Di rumah ini tidak ada TV, jadi awalnya kami tidak tahu kalau Mesir terjadi kerusuhan seperti itu. Baru setelah keluarga dan kerabat pada tanya keadaan Zia ke kami, saya langsung kontak Zia yang ada di Mesir,” tukas Nurhidayati.

Ahmad Husnan menambahkan, sebagai orang tua, dirinya cukup khawatir. Namun, dirinya yakin, situasi di Mesir akan kembali aman. Husnan yang sempat menimba ilmu di Kairo selama setahun pada 1974 tersebut membayangkan jika situasi yang terjadi di negeri tersebut hampir sama dengan masa peralihan orde baru ke orde reformasi di Indonesia pada 1998 silam.

“Mendengarkan kabar dari sana, saya langsung membayangkan waktu lengsernya Pak Harto (Presiden Soeharto-red). Meski saya sendiri yakin situasi di sana akan kembali aman, tapi Zia tetap diharapkan segera pulang,” jelas Husnan.

Menurut Husnan, anaknya yang sudah tiga tahun tidak pulang ke Tanah Air itu telah melapor ke Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir agar mendapatkan jatah pemulangan dari pemerintah. Namun, meski belum jelas kapan evakuasi itu akan dilakukan, pihak keluarga tetap bersabar. Kedua orang tua Zia itupun meminta anak keempat dari enam bersaudara tersebut untuk pulang dengan pesawat komersil jika tidak mendapatkan jatah dari pemerintah.

“Tapi kalau menunggu pulang pakai pesawat sendiri, tentu menunggu situasi di bandara aman dulu,” sambung Nurhidayati.

Sambil menunggu pemulangan itu, keluarga Zia terus menjalin komunikasi. Pihak keluarga di Tanah Air juga tidak lupa mengirimkan uang saku. Uang saku tersebut, terakhir kali ditransfer pada Jumat kemarin. Tapi sampai Sabtu kemarin, Nurhidayati belum mengetahui apakah uang saku senilai Rp 1 juta itu sudah sampai ke tangan Zia atau belum.

“Sebenarnya saya sudah mau transfer sejak Selasa lalu. Tapi kata Zia, jangan dulu karena bank-bank di sana masih tutup. Tapi kemarin saya akhirnya transfer lewat ATM, sampai sekarang uang itu sudah sampai atau belumnya saya juga belum tahu,” terang dia.

hkt

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…