Jumat, 4 Februari 2011 16:30 WIB Boyolali Share :

Pemerintah mulai kembangkan kebun bibit rakyat

Boyolali (Espos)–Pemerintah mulai mengembangkan kebun bibit rakyat (KBR) sebagai penyuplai pengembangan hutan tanaman rakyat.

Langkah itu dilakukan setelah pemerintah secara resmi menghentikan izin penebangan atau konversi lahan hutan alam primer, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian alam Indonesia. “Hutan alam primer itu saat ini sudah tidak boleh ditebang lagi sebagai upaya pelestarian alam,” ujar Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam kunjungan kerja di UD Abioso, Desa Ngargosari, Kecamatan Ampel, Boyolali, Jumat (4/2).

Dalam kesempatan itu, Menhut juga melakukan penanaman pohon secara simbolis, penyerahan bantuan bagi korban bencana Merapi dan penyerahan simbolis Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari berbagai bank. Menhut menambahkan keberadaan hutan alam primer itu sudah sangat terbatas dan tidak bisa terus dilakukan eksploitasi. Saat ini, jelas Menhut, biaya pengiriman kayu dari Papua atau Kalimantan untuk menyokong industri perkayuan di Jawa sudah semakin mahal. Belum termasuk dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Sebagai upaya mengurangi penebangan hutan alam primer, jelas Menhut, kini pemerintah mulai mengembangkan industri kayu berbasis hutan tanaman rakyat. Pemerintah, tandasnya, terus memperbanyak kebun bibit rakyat (KBR) sebagai salah satu penyumbang untuk hutan tanaman rakyat. “Kami mentargetkan tahun 2014 mendatang, seluruh desa di Indonesia sudah memiliki hutan tanaman rakyat untuk menyumbang kelestarian alam dan industri pengolahan kayu berbasis hutan tanaman rakyat,” jelasnya.

Ditambahkan Menhut, pada tahun 2010 lalu, pemerintah telah membantu sebanyak 8.000 KBR, masing-masing KBR dibantu Rp 50 juta untuk pengembangan bibit.“Sedang dalam tahun 2011 ini, sebanyak 10.000 kelompok dibantu untuk pengembangan bibit,” papar dia.

fid

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…