Kamis, 3 Februari 2011 17:01 WIB News Share :

Warga Tionghoa keluhkan sulitnya pembuatan KTP dan akte kelahiran

Jakarta--Warga etnis keturunan Tionghoa rupanya masih mengeluhkan sulitnya birokrasi dalam pembuatan KTP maupun akte kelahiran. Tak hanya itu, mereka juga mengeluhkan mahalnya biaya pembuatan dokumen tersebut sehingga enggan mengurusnya.

Contohnya saja Un Cuan, seorang karyawan swasta yang tinggal di Desa Benda, Kecamatan Benda, Tangerang. Ia mengaku membutuhkan waktu lima hari hanya untuk memperpanjang KTP-nya yang sudah habis masa berlakunya.

“Saya dipersulit. Kemarin memperpanjang KTP saja butuh waktu lima hari. Apalagi waktu mau bikinnya. Ada teman saya yang juga etnis butuh 1-2 pekan untuk membuat KTP,” kata ayah dua dua ini, di Vihara Dharma Pala, Tangerang, Kamis (3/2).

Melihat keadaan itu, Un Chuan pun terpaksa menggunakan nama Indonesianya, Untoso, agar tidak dipersulit oleh birokrasi kependudukan. Meski saat ini warga keturunan diperbolehkan menggunakan nama aslinya, namun Un Chuan tetap takut menggunakannya. “Takut ah, nanti dipersulit. Udah pakai nama Indonesia saja,” imbuhnya

Un Chuan juga mengeluhkan mahalnya pembuatan Akte Kelahiran untuk kedua anaknya, Shento Wiyadi ,8, dan Shendi Winata ,2. Untuk membuat Akte Kelahiran, Un Chuan, atau biasa dipanggil A Cuan, harus merogoh kocek senilai Rp 300.000 setiap satu aktenya.

Karena itulah ia dan saudara-saudaranya tidak memiliki akte kelahiran. “Ujung-ujungnya duit semua. Nggak ada yang gratis di sini. Mesti ada ‘pelicinnya’,” kata A Cuan sambil tertawa.

Ketika anak pertamanya lahir, ia meminta agar bidan yang membantu kelahiran putranya menguruskan akte. Namun ketika anak kedua lahir, sang bidan tidak mau lagi membantunya. Bidannya beralasan mengurus akte kelahiran Tionghoa rumit. “Saya disuruh bikin sendiri saja karena rumit,” tambah pria yang juga beristrikan warga keturunan Tionghoa ini.

Untuk tahun baru Imlek ini, A Cuan tidak mempunyai doa-doa khusus yang dipanjatkan. Ia hanya mensyukuri apa yang ada, dan berharap agar keluarganya diberi keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang cukup.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…