Senin, 31 Januari 2011 10:02 WIB Kesehatan Share :

Waspadai gejala kanker, jangan sepelekan mimisan

Jakarta–Hampir semua orang pernah mimisan. Namun jika darah yang keluar cukup banyak dan terlalu sering terjadi, sebaiknya segera diperiksa karena bisa jadi itu gejala kanker nasofaring (bagian atas faring atau tenggorokan).

Karena dialami oleh hampir semua orang, mimisan sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Faktanya, mimisan bisa terjadi secara spontan pada 80-90 persen orang sehat terutama pada kelompok usia anak-anak.

Meski umumnya tidak membahayakan, namun jika mimisan yang parah dan terlalu sering harus diwaspadai. Beberapa penyakit serius seperti tekanan darah tinggi, penggumpalan darah, stroke dan kanker sering ditandai dengan gejala perdarahan pada hidung.

Jenis kanker yang bisa memicu mimisan parah adalah kanker Nasopharynx Carcinoma (NPC). Pada stadium lanjut, seperti dikutip Channelnewsasia, Minggu (30/1), kanker ini tak hanya menyebabkan mimisan tapi juga menyebabkan ingus yang keluar selalu mengandung bercak darah.

Karena itu jika seseorang sering mengalami mimisan parah, sebaiknya segera memeriksakan diri. Jika memang ada indikasi atau mungkin punya riwayat kanker di keluarganya, biasanya dokter akan melakukan biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan.

NPC sulit dideteksi karena umumnya tidak memberikan gejala yang khas. Pada stadium awal, gejala kanker ini hanya seperti flu biasa yakni bersin-bersin dan hidung meler.

Meski gejala awalnya hanya sepele, jenis kanker ini cukup mematikan. Di Indonesia, NPC menempati urutan ke-4 jenis kanker paling berbahaya setelah kanker rahim, kanker payudara dan kanker kulit.

dtc/tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…