Senin, 31 Januari 2011 14:40 WIB Solo Share :

Pemkot Solo desak pusat terbitkan lisensi mobil rakitan siswa SMK

Solo (Espos)--Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mendesak pemerintah pusat segera  mengeluarkan lisensi bagi mobil-mobil hasil rakitan siswa-siswi sekolah  menengah kejuruan (SMK) di Solo.

Dengan diterbitkannya lisensi dari  pemerintah, diharapkan produk hasil karya anak bangsa itu dapat segera dipasarkan. Hal itu dikemukakan Wakil Walikota (Wawali) Solo, FX Hadi Rudyatmo sesaat sebelum meninjau kesiapan di Solo Techno Park (STP) dalam rangka menyambut kunjungan kerja (Kunker) rombongan Komisi X DPR RI ke Solo, Senin (31/1).

Wawali mengungkapkan mobil-mobil hasil rakitan siswa-siswi SMK yang diberi nama Digdaya dan Rajawali itu tidak kalah kualitasnya dengan mobil-mobil keluaran luar negeri yang selama ini dipasarkan di Indonesia. Bahkan diungkapkannya, saat ini pesanan untuk produk mobil tersebut sudah mulai menbanjiri. “Kalau boleh jujur, saat ini sudah ada pesanan sekitar 600 unit. Sayangnya belum bisa dipenuhi karena salah satu persoalannya ya karena belum ada sertifikat laik jalan dari pemerintah pusat,” ungkapnya.

Ditambahkan Wawali, tahun 2011 ini mobil-mobil rakitan siswa-siswi SMK itu bahkan direncanakan menjadi mobil dinas dalam kota bagi Walikota dan Wawali. Bahkan, jika memungkinkan, pihaknya akan mengusulkan agar mobil dinas kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) juga menggunakan produk lokal dengan harga sekitar Rp 150 juta tersebut. “Kita harapkan ke depan mobil anak daerah ini bisa digunakan juga di SKPD, sehingga bisa lebih dikenal oleh masyarakat. Selain itu, juga bisa mewujudkan efisiensi anggaran,” tandasnya.

sry

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…