Minggu, 30 Januari 2011 11:22 WIB Klaten Share :

PPKB Klaten
Lelaki pengangguran jadi sumber kekerasan...

Sejarah kekerasan tampaknya masih belum bergeser dari dua kata ini, yakni lelaki dan pengangguran. Ini pula yang terlihat saat menyimak data dari Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Klaten bahwa puluhan kasus kekerasan yang terjadi dalam kurun 2010 pelakunya 99% ialah lelaki.

“Baik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan pada anak-anak, nyaris lelaki semua pelakunya,” kata Kepala PPKB, Komariyah di ruang kerjanya, Jumat (29/1).

Jika dilihat dari akar permasalahnnya, kenyataan tersebut juga tak terlepas dari faktor ekonomi. Keluarga yang dirundung kesulitan ekonomi, kata Qomariyah, akan sangat berpotensi melahirkan kekerasan. Meski demikian, keluarga yang berekonomi mapan pun bukan berarti bebas dari kasus kekerasan. “Sebab, intinya ialah kesadaran serta pengetahuan untuk bisa menahan diri. Namun, orang yang berlatar ekonomi mapan dan berpendidikan biasanya lebih sedikit kasus kekerasannya,” lanjutnya.

Data yang dibeberkan PPKB soal KDRT misalnya, rata-rata dilakukan oleh suami tanpa pekerjaan tetap alias pengangguran. Dari 40 kasus yang terjadi, 29 di antaranya dilakukan oleh suami yang pengangguran. Sisanya sebanyak 11 orang dilakukan oleh suami yang sudah bekerja di sektor swasta, namun berpendidikan rendah, yakni SLTP dan SLTA. “Namun, hal itu juga sangat dipengarugi oleh latar belakang pelaku. Sebab, orang yang berlatar dari didikan penuh kekerasan selama di keluarganya akan sangat mudah melakukan kekerasan meski berpendidikan tinggi dan bekerja mapan,” imbuhnya.

Kekerasan terhadap perempuan bukan saja terjadi dalam relasi rumah tangga atau suami istri. Di lingkungan pergaulan muda-mudi sekarang ini pun juga kerap terjadi kekerasan. Dari 12 kasus kekerasan perempuan yang mencuat ke hukum, semuanya terjadi oleh pasangan muda-mudi yang masih duduk di bangku SLTA. Dan dalam kasus itu, kaum Adam adalah pelaku utama dari kekerasan terhadap perempuan. “Hal ini mengindikasikan betapa perilaku muda-mudi semasa pacaranpun sudah dipenuhi kekerasan,” terangnya.

Namun, untuk yang terakhir ini, kekerasan fisik dan kekerasan dalam bentuk penelantaran masing-masing hanya terjadi dua kasus dari 12 sampel kasus. Selebihnya, adalah kekerasan seksual! “Ini memang sangat memprihatinkan, betapa pergaulan anak-anak remaja sekarang begitu bebasnya. Di sinilah peran orangtua dan masyarakat untuk membentengi anak-anak kita dari bahaya kebebasan pergaulan dan kemajuan teknologi sangat penting,” terangnya. Aries Susanto

lowongan pekerjaan
PT. DISTRIVERSA BUANAMAS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…