mul5
Minggu, 30 Januari 2011 20:30 WIB Kolom Share :

Koin untuk melecehkan…

Mulyanto Utomo

“Ada rasa sedih melihat pengumpulan koin untuk Presiden. Komunikasi Presiden dan warganya tidak sehat…” begitu tweet Prof Dr Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di akun mikro blogging  twitter miliknya akhir pekan lalu.

Sebenarnya bukan hanya rasa sedih yang berkecamuk di ribuan, atau bahkan jutaan warga negara Indonesia. Sejumlah kawan, malah menumpahkan rasa geram, marah dan tidak habis pikir atas tumbuhnya gerakan pengumpulan koin yang bertujuan untuk melecehkan Sang Presiden itu.

Tentu saja, sejumlah kawan yang lain ada yang justru bersikap sebaliknya; mendorong, senang dan bergembira ria. Kelompok ini pun kemudian dengan penuh semangat mengajak serta memprovokasi lingkungannya agar ikut serta menggelorakan semangat menghina Presiden itu.

Entah siapa yang memulai. Namun gerakan ini jelas terinspirasi dengan Koin Keadilan untuk Prita beberapa waktu silam. Jika koin untuk Prita, yang kala itu diperkarakan sebuah rumah sakit gara-gara menulis keluhan tentang pelayanan medis, murni untuk membantu  ibu dua orang anak tersebut, gerakan pengumpulan koin untuk Presiden ini lebih bernuansa politis, sebuah sindiran, cibiran, pelecehan atau mungkin juga penghinaan.

Yang jelas, gerakan ini pertama terekam saat rapat kerja Polri dan anggota Komisi III DPR digelar, Senin (24/1) silam. Sejumlah anggota Komisi III DPR melakukan aksi penggalangan sumbangan uang receh yang ditujukan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di gedung DPR.

Kotak berbahan kaca berukuran sekitar 30 X 20 cm bertuliskan “Koin untuk Presiden” itu tahu-tahu telah nangkring di bagian belakang ruang Komisi III. Sejumlah anggota DPR ikut memasukkan uang receh senilai Rp 500 dan Rp 1.000 ke dalam kotak kaca, di antaranya Bambang Soesatyo (F-Golkar), Syarifudin Sudding (F-Hanura), dan Desmon Mahesa (F-Gerindra). Sedikit demi sedikit, puluhan koin telah terkumpul di dalam kotak sumbangan tersebut.

Bahkan, Bambang sempat mengajak Kepala Bareskrim Polri Komjen Ito Sumardi untuk ikut menyumbang dana untuk Presiden. “Ayo Pak Ito, ikutan (nyumbang),” ujar Bambang kepada Ito. (<I>Kompas.com<I>, 24/1)

<B>Tidak etis<B>

Menyimak gerakan yang terus didorong pertumbuhannya itu, pengguna twitter pun saling bersahutan memberi komentar. “Tugas anggota DPR itu membela rakyat, mengawasi kerja Presiden. Menghina Presiden itu bukan fungsi DPR,” begitu tulis Budiono Darsono, di twitternya.

Tak lama kemudian sejumlah followernya pun menyahut, “Koin anggota DPR untuk Presiden adalah peragaan politik tanpa etika.”  Yang lainnya menulis, “Tuh kan, banyak yang bilang, anggota DPR yang kumpulkan koin untuk Presiden itu tak etis dan kampungan, tidak patut…”

“Kalau pendapat sapeyan bagaimana Mas Warto,” Tanya Denmas Suloyo kepada karibnya Mas Wartonegoro saat jagongan di warung hik News Café kampung saya.

“Wah lha kalau saya ya tidak sependapat dengan aksi seperti itu. Bagaimanapun juga SBY itu kan Presiden kita, jadi ya jangan dilecehkan sedemikian rupa lah,” jawab Mas Waronegoro.

“Kalau saya sih setuju saja. Biar ini menjadi pembelajaran bagi Presiden, jangan sedikit-sedikit ngeluh… sedikit <I>nggresula<I>,” kata Denmas Suloyo.

”Tapi apa yang disampaikan Presiden itu kan belum tentu keluhan. Mungkin sekadar memotivasi, memberi semangat kepada jajaran TNI/Polri bahwa ini lho Presiden saja sudah tujuh tahun tidak naik gaji… mungkin begitu,” timpal Mas Wartonegoro.

”Alah, apapun namanya… mengungkapkan hal seperti itu ya namanya mengeluh, paling tidak curhat. Lha wong koran sampeyan saja menyimpulkan apa yang diungkapkan Presiden itu sebgai <I>sambat<I>… itu kan identik dengan mengeluh to,” kata Denmas Suloyo.

Entahlah. Yang pasti, apa yang disampaikan Presiden SBY saat berpidato pada penutupan Rapat Pimpinan TNI/Polri, Jumat akhir pekan lalu itu memang bisa mengundang multi tafsir. Bagi saya, gerakan pengumpulan uang receh untuk Presiden itu rasanya tidak etis. Sebuah akrobat politik yang sangat vulgar di negara yang katanya penuh sopan santun ini.

Saya jadi teringat dengan pesan seorang khotib bahwa antara orang yang satu dengan yang lain itu sesungguhnya bersaudara dan harus saling hormat menghormati. ”Ini pesan Nabi, janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, dia tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya,” begitu kata Pak Kiai di kampung saya itu. Ya begitulah seharusnya kita hidup berbangsa dan bernegara.

Di sisi lain, saya juga sependapat dengan apa yang disampaikan Ikrar Nusa Bhakti seorang Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyatakan bahwa Presiden SBY tidaklah perlu mengungkapkan gajinya yang sudah sangat tinggi itu tidak naik selama tujuh tahun, baik di hadapan perwira tinggi TNI/Polri maupun para guru sekalipun.

”Presiden adalah orang yang memiliki privilese atau keistimewaan. Segala kebutuhan juga dipenuhi melalui dana taktis presiden. Bandingkan dengan perwira tinggi TNI/ Polri atau pegawai negeri sipil (PNS) dengan pangkat Pembina Utama Tingkat I golongan IVE yang tentunya masih menggunakan gaji dan honorariumnya untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Ikrar yang menkritik apa yang diungkapkan Presiden itu (<I>Kompas<I>, 25/1).

Jadi, marilah para pembesar, para elite, para <I>priyagung<I> di negeri ini mawas diri. Senantiasa memikirkan nasib bangsa yang puluhan juta rakyatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Jangan sedikit-sedikit mengeluh… mengeluh sedikit-sedikit… lantas saling menyerang dengan manuver-manuver politik yang tidak etis dan jauh dari norma-norma keluhuran budi orang Timur… dan itu tiada manfaatnya bagi rakyat kecuali justru menumbuhkan saling benci dan dendam.

lowongan pekerjaan
PT. SARANA SURAKARTA VENTURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JUAL DAIHATSU Terios’09 TX AD-Solo,NomerCantik,An/Sendiri,Istimewa,Harga Nego,Hub:08…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Peringkat dan Mutu Perguruan Tinggi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/9/2017). Esai ini karya Johan Bhimo Sukoco, dosen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo. Alamat e-mail penulis adalah johanbhimo@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Kementerian Riset Teknologi dan…