Minggu, 30 Januari 2011 17:44 WIB News Share :

Keberadaan Nunun Nurbaeti masih sulit dilacak

Sumber foto: Matanews.com

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi mengaku kesulitan mencari keberadaan Nunun Nurbaeti, yang diduga mengalirkan 480 lembar cek pelawat dalam proses pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom.

Juru Bicara KPK, Johan Budi menyatakan pihaknya sudah mencoba berbagai cara untuk melacak Nunun. “Kami sudah datang ke Singapura, tapi ternyata di sana nama Nunun tak terdaftar,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Minggu (30/1)

Saat proses pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia, 2004 lalu, Nunun diduga berperan menggelontorkan cek pelawat untuk menggolkan Miranda. Istri mantan Wakil Kepala Polri Adang Daradjatun ini menggunakan salah satu anak buahnya, Arie Malangjudo untuk mengantarkan sejumlah cek pelawat kepada anggota Komisi Keuangan (IX) DPR periode 1999-2004.

Empat orang anggota DPR periode 1999-2004 telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Mereka adalah Hamka Yandhu, Udju Djuhaeri, Dudhie Makmun Murod dan Endin A.J. Soefihara. Sementara 25 orang lainnya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sembilan belas di antaranya, Jumat (28/1) lalu resmi ditahan KPK. Namun baik Nunun, Miranda maupun Arie, sampai saat ini masih menghirup udara bebas.

Nunun sendiri telah berkali-kali dipanggil KPK. Namun, ia selalu berkelit dengan alasan sakit ingatan. Pihak pengacara dan keluarga menyatakan Nunun dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura.

KPK pun berencana memeriksa Nunun dengan tim dokter lain untuk mendapatkan penjelasan pembanding tentang penyakitnya. Namun ketika KPK menyambangi rumah sakit itu, Nunun tak terdaftar dalam daftar pasien rumah sakit.

Sampai saat ini, hasil penelusuran KPK terhadap Nunun pun masih nihil. “Besok akan mulai ditelusuri lagi keberadaannya,” ujar Johan. Tempointeraktif.com

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…