Rabu, 26 Januari 2011 05:10 WIB Karanganyar Share :

Pemancing rusak pinggiran tanggul Waduk Lalung

Karanganyar (Espos)–Sejumlah pemancing yang biasa memancing ikan di Waduk Lalung, berulah. Mereka mengambil bebatuan yang dipasang di pinggir tanggul waduk, sebagai tempat duduk dan pijakan mereka saat memancing.

Beberapa kali para pemancing di sana diperingatkan oleh sejumlah petugas penjaga pintu waduk. Namun imbauan itu tidak digubris. “Kalau mau mancing di sana boleh saja, tapi kalau bisa ya jangan merusak fasilitas milik waduk. Itu kan fasilitas milik umum,” ujar salah satu petugas Waduk Lalung, Rukimin, kepada Espos di rumahnya, Selasa (25/1).

Selain para pemancing, lanjut Rukimin, ada juga sejumlah pengunjung Waduk Lalung yang melakukan hal yang sama. Setiap hari, para pemancing ikan itu memancing di pinggiran air waduk. Tanggul penahan air waduk itu dilapisi dengan bebatuan. Batu itu berfungsi sebagai pemecah ombak air.  Jika bongkahan batu yang sudah dipasang rapi itu diambil, khawatirnya kekuatan tanggul untuk menahan air, terganggu.

Padahal di waduk tersebut bisa memuat lebih kurang lima juta kubik air. “Jangan sampai tanggul Situgintung, Jabar, yang jebol, terjad di Karanganyar. Air yang ditampung di Waduk Lalung jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang di Situgintung,” jelas Rukimin.

Hal senada juga diungkapkan petugas lain, Narto. Selain bebatuan pinggir tanggul, batako di atas tanggul juga banyak yang dibongkar. Akibatnya, jalan umum di atas tanggul menjadi rusak dan tidak beraturan. “Entah batako itu untuk apa saya juga tidak tahu. Tapi sekarang jalan di tanggul sudah tidak rapi lagi,” kata Narto.

Di sisi lain salah satu pemancing di Waduk Lalung, Sidik, mengatakan, tidak semua pemancing di sana merusak bebatuan di pinggir waduk. Beberapa di antaranya memang ada yang mengambil, lalu mengembalikannya lagi ke tempat semula.

fas

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…