Selasa, 25 Januari 2011 22:36 WIB Solo Share :

Saat anak-anak termajinalkan tak lagi terabaikan

Oleh :  Nadhiroh

Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30 WIB. Anak-anak Taman Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Asy Syifa baru sekitar setengah jam memasuki ruangan pada Selasa (25/1).

Deru kendaraan bermotor yang lalu lalang di simpang empat Gilingan dan kerasnya suara klakson tak berpengaruh pada aktivitas belasan bocah yang berada di Taman PAUD tersebut. Hari itu, ada empat anak yang tidak masuk karena sakit.

Sebagian anak yang hadir tengah asyik mewarnai gambar yang ada di buku mewarnai. Mereka seolah-olah tak peduli lagi dengan apa yang ada dan terjadi di luar ruang kelas.

Setiap Senin-Sabtu anak-anak yang masuk sejak pukul 08.00 WIB-10.00 WIB itu sudah tak asing lagi dengan kebisingan dan keramaian yang terjadi di simpang empat Gilingan.

Taman PAUD Asy Syifa yang berada di Cinderejo Lor RT 1 RW V Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo berada tak jauh dari Terminal Tirtonadi Solo. Hanya sekitar 100 meter di sebelah utara Terminal Tirtonadi. Taman itu berada di simpang empat Gilingan tepatnya di dekat Jembatan Sungai Kalianyar.

“PAUD Asy Syifa berdiri 5 Juni 2010 lalu. Pada dua bulan awal berdirinya, penuh dengan perjuangan berat,” ujar Pembina Taman PAUD Asy Syifa, Suwono, 50, saat ditemui Espos, Selasa.

Pria yang biasa disapa Mbah Wono itu merasakan betapa besarnya pengorbanan yang harus dilakukan bersama dengan istrinya, Susilowati, 40 dan rekan-rekan yang ikut mendukungnya. Dia menuturkan sekitar 90 persen anak-anak Taman PAUD Asy Syifa berasal dari kaum marjinal yang tinggal di Gilingan dan sekitarnya.

Mbah Wono sendiri kurang berkenan jika harus menyebutkan profesi orangtua dari sebagian besar anak-anak Taman PAUD Asy Syifa. Dia tak ingin anak-anak kaum marjinal itu diabaikan.

Bahkan Mbah Wono bersama rekan-rekannya berupaya peduli dengan bocah-bocah itu dengan memberikan pendidikan yang baik dan benar sejak dini.

Ada 20 anak yang mengikuti kegiatan di Taman itu tiap harinya. Di lokasi tersebut ada tiga ruangan yang telah disiapkan bagi peserta didik PAUD Asy Syifa. Ketiga ruangan yang ada tidak sama ukurannya.

Ruang yang paling luar berukuran 3 meter x 4 meter dan ditempati anak-anak yang berusia di bawah 3 tahun. Di ruang selanjutnya yang berukuran 2 meter x 4 meter disediakan bagi mereka yang berumur 4-5 tahun. Bocah-bocah yang berusia di atas 5 tahun menempati ruang yang paling dalam.

Ketiga ruangan itu sangat sederhana. Meski demikian, pengelola Taman PAUD Asy Syifa sudah berusaha melengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti papan tulis, meja kursi, alat peraga edukatif, alat tulis dan sebagainya.

Jarang  yang mau peduli

Pengelola Taman PAUD Asy Syifa membebaskan seluruh peserta didik dari pembayaran apapun. Mbah Wono menyadari banyak orang yang tidak tertarik untuk membantu keberadaan Taman PAUD yang dikelolanya.

“Di sini (Taman PAUD Asy Syifa-red) semuanya gratis. PAUD Asy Syifa bukan untuk komersil. Jadi, banyak orang tidak tertarik. Kalau membantu untungnya apa. Mereka yang mau membantu benar-benar perlu keikhlasan yang tinggi. Guru di sini pun sukarelawan. Belum lama ini, guru PAUD sini, Ernawati yang akan berangkat mengajar kecelakaan di jalan dan kaki kirinya patah,” papar Mbah Wono.

Salah satu tenaga pendidik Taman PAUD Asy Syifa, Nuris Shovia, 21, sendiri tidak terlalu mempermasalahkan apa yang diterimanya dari mengajar di Taman tersebut. Sejak awal, Nuris melihat Taman PAUD Asy Syifa memiliki perbedaan dari Taman PAUD yang lain.

“Anak-anak di PAUD ini (Taman PAUD Asy Syifa-red) kebanyakan dari kaum marjinal. Niat saya membantu untuk ikut memperbaiki moral mereka sejak dini. Sebagian dari mereka ada yang sudah biasa bicara enggak benar. Kalau nggak kita, siapa lagi yang mau peduli. Saya khawatir kalau tidak ditanamkan sejak dini, akhlak anak-anak jadi ikut tidak benar,” terang Nuris.

Bagi bocah-bocah kaum marjinal yang belum berdosa itu, keberadaan Taman PAUD Asy Syifa rupa-rupanya menjadi tempat yang mengasyikkan. Mereka bisa bermain sekaligus belajar. Seperti yang dirasakan Catur Putro Pambudi, 5. Kini, dia sudah bisa membaca dan merasa kerasan.

“Sekarang saya sudah bisa baca. Di sini (Taman PAUD Asy Syifa-red) enak. Bisa main dan belajar,” tuturnya.

Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Kemia Windia Sari, 3. “Di sini (Taman PAUD Asy Syifa-red)  bisa belajar nyanyi dan tepuk tangan,” ucap Kemia ketika ditanya Espos tentang keberadaan Taman PAUD Asy Syifa.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.NSC FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…