Senin, 24 Januari 2011 11:12 WIB Solo Share :

“Betapa kami sangat mencintaimu, Pak SBY”

Oleh: Ahmad Hartanto

“Kami cinta dengan presiden kami. Kami sayang dengan Pak SBY,” kata Joni, si tukang becak saat berkumpul dengan kawan seprofesi di Gladag, Solo Senin (24/1) pagi. Pagi itu, bersama 50-an tukang becak se-Solo, Joni dan kawan-kawan melakukan aksi dukungan kenaikan gaji Presiden RI. Tak tanggung-tanggung, mereka setuju bahkan jika SBY meminta kenaikan gaji
Rp 1 triliun per bulan.

“Rp 1 triliun pun kami sangat setuju. Kenapa, karena kami sayang dengan Pak SBY,” katanya. Dengan kenaikan itu, ia pun tidak terlalu berharap banyak akan ada perbaikan kondisi pada orang miskin, khususnya bagi tukang becak. Bahkan ia rela jika harus iuran untuk nomboki gaji presiden. “Kalau tidak dari kami, uangnya bisa dari Gayus atau utang luar negeri, silakan kami sangat setuju,” tambah Joni.

Namun jika melihat tulisan poster yang mereka bawa saat aksi, persetujuan itu merupakan bentuk sindiran terhadap keluhan Yudhoyono tentang gajinya yang tidak naik selama tujuh tahun menjabat Presiden RI. Beberapa poster yang dibentangkan bertuliskan bohong=nyolong, Katanya Berjuang, Kok Mikir Uang, Gaji Naik, Jabatan Turun.

Gaji presiden Rp 63 juta per bulan dan dana taktis Rp 2 miliar per bulan, menurut para tukang becak, sudah lebih dari cukup. Jika dibandingkan dengan penghasilan Joni dkk, uang itu sudah berlipat ratusan kali. Maka ia menilai seorang presiden kurang pantas Curhat mengenai gaji disaat rakyat tengah dilanda kesulitan ekonomi.

Koordinator aksi, Bambang Sapto, menilai aksi ini merupakan bentuk apatisme masyarakat mengenai ulah para pemimpin. “Mereka tidak melihat rakyatnya sengsara, mati kelaparan dan keracunan makan,” katanya.

Ia berharap presiden dan para pemimpin bangsa tidak terlalu berfikir mengenai gaji, karena menurutnya, para pejabat sudah berkecukupan dalam kebutuhan sehari-hari. “Presiden kan jabatan terhormat, jadi saru dan tidak pantas jika mengeluh tidak pernah naik gaji,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…