Minggu, 23 Januari 2011 20:10 WIB Sukoharjo Share :

Mayat wanita di Gonilan
Senin, polisi kirim sampel DNA korban

Ilustrasi sketsa: wartakota.co.id

Kartasura (Espos) — Salah seorang warga Wonogiri meyakini identitas mayat wanita yang ditemukan di Dukuh Candi, Gonilan, Kartasura sekitar sepekan lalu adalah anggota keluarganya. Jajaran Polres Sukoharjo, Senin (24/1) berencana mengirim beberapa sampel korban dan terduga keluarganya itu untuk keperluan tes DNA.

Keyakinan salah satu warga itu muncul setelah melihat sejumlah ciri korban seperti yang dirilis polisi akhir pekan lalu. Kapolres Sukoharjo, AKBP Pri Hartono EL melalui Kapolsek Kartasura, AKP Wahyu Broto mengatakan warga Wonogiri itu berinisial CN. CN adalah seorang remaja putri yang datang mengroscek ciri korban dengan ciri ibu kandungnya, Giyem, 38.

“CN yakin baju dan sandal yang ditemukan di TKP seperti milik ibunya,” katanya saat dihubungi, Minggu (23/1).

Selain itu, lanjutnya, CN juga membawa ijazah SMP Giyem untuk mencocokkan sidik jari dengan korban tersebut. Namun, Wahyu mengaku masih merasa ragu lantaran sidik jari dalam ijazah itu sudah tak jelas.

Wahyu mengatakan pihaknya tak akan gegabah menyimpulkan keidentikkan identitas korban dan Giyem. Selain sidik jari, Wahyu juga melihat ketidakcocokan usia Ginem dengan usia korban seperti yang diterangkan petugas laboratorium forensik, yakni usia korban tak lebih dari 23 tahun.

Menurut keterangan CN, Ginem merupakan seorang pedagang sayuran yang kerap menjual dagangannya di salah satu pasar di Solo. Wahyu mengatakan pihaknya terus mencari korelasi keterangan CN dengan keterangan dari sejumlah sumber yang ditemukan terhadap diri korban itu. “Kami sudah mengambil beberapa sampel dan sepertinya besok (Senin-red<I>) kami akan mengirimnya untuk uji DNA melalui Satreskrim PolresSukoharjo,” tambahnya.

Dia memperkirakan tes DNA itu akan dapat dilihat hasilnya dua pekan kemudian. Dia juga mengatakan hasil laboratorium forensik terhadap diri korban belum diterimanya.

“Modus belum kami simpulkan, mungkin besok (Senin-red), setelah hasil forensik resmi kami terima,” katanya.

Sebelumnya, polisi mengatakan telah mengantongi modus di balik temuan mayat itu. Namun, polisi akan menyampaikan kesimpulan modus setelah hasil laboratorium forensik diterima secara resmi. ovi/hkt

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…