Minggu, 23 Januari 2011 17:30 WIB Ekonomi,Klaten Share :

Lurik Jepara jajah Klaten

Klaten (Espos)–Persaingan bisnis lurik di Klaten telah membuat resah sejumlah pengrajin lurik lokal. Penyebabnya, produk lurik dari Jepara dan Pekalongan yang membanjir di Klaten dijual dengan harga miring yakni Rp 15.000/ meter.

Pelaku bisnis lurik asal Desa Kepoh, Delanggu, Sandiyo menjelaskan, kelemahan pengrajin lurik lokal Klaten ialah karena masih banyak yang belum paham aneka jenis kain lurik dan sekian varian bahannya. Di sisi lain, juga dipengaruhi banyaknya pembeli yang tak mengerti aneka jenis lurik berkualitas dengan yang tidak. Akibatnya, ketika lurik asal Pekalongan dan Jepara membanjir dengan harga murah maka banyak pelaku bisnis lurik sekaligus pembeli yang tergoda.

“Saat ini, orang ngertinya kain lurik ya seperti itu. Sehingga, ketika ada instruksi pemakaian kain lurik oleh Gubernur, banyak yang membeli lurik dengan harga miring,” jelasnya ketika ditemui Espos di kediamannya, Sabtu (22/1).

Selama ini, kata Sandiyo, pengrajin lurik Klaten tetap konsisten dengan lurik berbahan katun 100%. Risikonya, harga lurik juga tak serendah dengan lurik produk Jepara dan Pekalongan yang berbahan campuran. Pelaku bisnis lurik lainnya asal Cawas, Miss Shobach mengakui bahwa selain murah, lurik Jepara juga memiliki kombinasi warna lebih menarik dan terkesan elit. “Saya sebenarnya kasihan. Di saat pengrajin Klaten mulai bersemangat, kini justru kalah bersaing dengan lurik Jepara,” paparnya.

Shobach mengaku sudah berupaya bersaing dengan lurik Jepara dengan berbagai inovasi, namun selalu gagal. Sebab, konsumen selalu mendapatkan produk murah yang dipasok dari Jepara dan Pekalongan.

asa

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…